PENGEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL

Standar

Mendeskripsikan perubahan perilaku yang terkait dengan keterampilan sosial di kamar mandi, toilet atau wc setelah mengikuti mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial

Sebelum membahas perubahan perilaku yang terkait dengan keterampilan sosial di toilet, wc, dan kamar mandi, saya akan membahas terlebih dahulu mengenai perbedaan kecil antara kamar mandi, toilet atau wc. Kalau kamar mandi itu digunakan untuk mandi, sementara wc atau toilet itu sebenarnya hanya digunakan untuk aktifitas kecil yang tidak memerlukan suplai air dalam skala besar. Seperti buang air kecil dan buang air besar, atau sekedar cuci muka, dan berdandan. Saya tidak mensinonimkan wc ini dengan kamar kecil, karena ada juga wc yang ukurannya besar.

  1. a. Kondisi Fisik toilet kamar mandi sendiri.

Kamar mandi saya berukuran 180 cm x 150 cm, memang kecil tapi cukup untuk ukuran satu orang untuk mandi. Meskipun kecil saya sangat nyaman bila melakukan aktifitas mandi di kamar mandi saya ini, karena penerangannya sangat baik dan ada ventilasinya, sehingga udara bisa keluar masuk dan kamar mandi saya pun tidak pengap. Bak mandi yang berukuran 50 cm x 40 cm dan di sebelahnya ada kloset jongkok yang masih berfungsi dengan baik. Kondisi pintunya pun masih berfungsi dengan baik. Posisi kamar mandi saya menghadap ke arah selatan dan terletak di sebelah dapur. Air yang mengalir ke kamar mandi itu berasal dari air PDAM.

Drainase kamar mandi saya mengalir ke selokan kecil di samping rumah, tetapi untuk drainase untuk buang air besar, sudah disediakan “septink tank” tersendiri yang ada di kebun sebelah rumah sehingga tidak mencemari sungai. Tapi, memang sangat disayangkan drainase untuk air bekas mandi, cuci baju, dan cuci piring mengalir ke selokan kecil karena akan mengakibatkan matinya organisme air karena limbah yang dihasilkan oleh hasil buangan air dari rumah saya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, warga sekitar yang dikoordinir oleh ketua RT setiap hari minggu selalu diadakan kegiatan kerja bakti yang salah satu kegiatannya yaitu membersihkan selokan. Sehingga dapat sedikitnya membantu mengembalikan kehidupan organisme air dan ketua RT biasanya memberikan saran agar tidak terlalu sering membuang limbah ke selokan.

b. Fungsi kamar mandi

Fungsi utama dari kamar mandi saya adalah fungsi higienis karena kamar mandi menjadi salah satu tempat dimana untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di badan, serta fungsi biologis yaitu untuk buang air kecil dan besar.

Jika di lihat dari fungsi sosial mungkin hanya sedikit, bukan di kamar mandi tetapi di tempat mencuci pakaian, karena tempat mencuci pakaian di rumah saya terpisah dengan kamar mandi, jadi ada ruangan tersendiri. Fungsi ini dapat berjalan apabila saya sedang membantu ibu mencuci pakaian, biasanya saya suka berbincang-bincang dengan ibu supaya pekerjaan mencuci pakaian pun tidak terasa berat.

c. Perilaku kebiasaan di kamar mandi

Kebiasaan saya ketika sedang di dalam kamar mandi yaitu menyanyi. Padahal hal tersebut sudah dilarang oleh orangtua saya katanya “pamali”, tapi entah mengapa saya selalu melakukannya. Mungkin hal inilah sudah menjadi kebiasaan sehingga sulit untuk dirubahnya.

d. Pandangan saya tentang itu semua

Bagi sebagian orang mungkin menganggap kamar mandi itu hal yang sepele, namun bagi saya tidak. Ada orang bijak yang berkata bahwa “Jika kita ingin melihat kepribadian seseorang itu bagaimana, hal yang harus pertama dilihat yaitu kondisi dari kamar mandinya itu sendiri.” Peran kamar mandi di sini sangat penting, jika kamar mandinya itu jorok dan berantakan, maka kepribadian orangnya juga tidak jauh berbeda dengan kondisi kamar mandinya itu, begitupun sebaliknya.

Saya termasuk orang yang sangat menjaga kebersihan apalagi itu kamar mandi sendiri yang nantinya juga akan membawa manfaat bagi saya sendiri. Jadi, saya selalu menjaga agar kamar mandi saya tetap bersih dan sehat. Selama itu tidak menganggu kehidupan orang lain dan ada manfaat bagi saya sendiri jika saya tetap menjaga kebersihan kamar mandi saya sendiri.

  1. a. Kondisi fisik toilet kampus

Kondisi toilet kampus dibandingkan dengan kamar mandi yang ada di rumah saya sangat jauh berbeda. Kalau kamar mandi saya masih menggunakan kloset jonggok, di kampus khususnya di gedung FPIPS menggunakan kloset duduk. Disini terlihat sekali perbedaannya, semakin kehidupan orang tersebut terpengaruh dengan modernisasi maka kondisi toiletnya pun akan modern. Nah, dari sini pula terjadi cultural shock dimana bagi mahasiswa yang berasal dari daerah cenderung tidak begitu memahami penggunaan toilet duduk, sehingga mereka tetap saja jonggok menggunakan toilet duduk. Mengapa saya bisa berkata demikian?. Ini merupakan pengalaman pribadi saya, ketika saya hendak buang air kecil, klosetnya sangat kotor. Ini indikasi orang sebelum saya menggunakan kloset duduk dengan cara jonggok sehingga menimbulkan klosetnya menjadi kotor. Padahal di awal perkuliahan penggunaan kloset duduk serta manfaatnya sudah dijelaskan oleh Dekan II.

Semakin modern, semakin praktis, namun semakin membawa dampak yang negatif. Misalnya, penerangan di toilet kampus sangat bagus, sehingga meskipun siang hari lampu tetap menyala. Sangat disayangkan sekali. Karena hal ini akan memboros energi listrik kampus. Keterampilan sosial seseorang kurang, karena mereka seakan dimanjakan oleh teknologi yang ada.

Ada beberapa masalah yang saya perhatikan di toilet kampus, yaitu:

  1. Akhir-akhir ini terjadi kekurangan air di gedung gedung FPIPS. Ini bukan masalah sepele, karena ketika mahasiswa/i “kebelet” ingin buang air kecil maupun besar, mereka menjadi kalang kabut mencari air. Apalagi bagi mereka yang berada di lantai 2-6, merekan terpaksa harus turun untuk ke lantai satu, karena air hanya tersedia di lantai satu.
  2.  Disediakannya tisu. Memang bagus pihak kampus menyediakan tisu di toilet, namun apabila tidak menyertakan tempat sampah sama saja bohong. Tisu berserakan di mana-mana.

 

b. Fungsi toilet kampus

Fungsi toilet kampus biasanya saya gunakan untuk buang air kecil. Awalnya saya tidak mau buang air kecil di tempat umum (kampus), karena saya termasuk orang yang “              merasa jijik”, namun karena tidak bisa menahan “pipis” ketika perkuliahan berlangsung, otomatis saya mau tidak mau harus tetap menggunakan toilet kampus.

Selain untuk mengeluarkan hajat atau kotoran dan biasanya tersedia westafel serta cermin besar di dalamnya. Fungsi toilet kampus pun menjadi lain, seperti:

–          Toilet Sebagai Tempat Berkeluh Kesah

Sebagai salah satu tempat umum, tentu toilet akan mempertemukan banyak orang didalamnya meski dalam kapasitas beberapa orang saja. Namun sering kali toilet justru dijadikan sebagai tempat berkeluh kesah mengenai perkuliahan yang dijalani mahasiswa. Tak sekedar keluhan kuliah, dosen yang menyebalkan, maupun teman sesama kampus yang mengesalkan. Berbagai warna cerita timbul ketika salah satu individu yang berkumpul mulai mengangkat satu topik ke topik yang lain.

 

–          Toilet Sebagai Tempat Melepas Penat

Bila diperhatikan, tak sedikit mahasiswi yang justru menggunakan toilet sebagai tempat pelarian untuk melepas penat dari proses perkuliahan yang mengikat. Ketika perasaan itu menghampiri, mereka tak segan meninggalkan kuliah mereka untuk sementara dan kemudian lari menuju toilet dengan tak lupa membawa seperangkat alat make up. Para wanita percaya, bahwa mencuci muka atau sekedar merapikan riasan wajah dapat menghilangkan perasaan penat dan mengurangi tingkat stress yang timbul akibat perkuliahan.

 

–          Toilet Sebagai Tempat Berkomunikasi

Toilet sebagai tempat berkomunikasi? Mengapa tidak? Salah satu di antara kita mungkin juga akan lebih memilih toilet sebagai tempat untuk berkomunikasi ketika tiba-tiba Anda menerima panggilan di handphone saat sedang bekerja.

 

–          Toilet juga Sebagai Tempat Mendapatkan Solusi

Ya, dari permasalahan yang ada atau sekedar keluh kesah yang dikeluarkan selama berada di dalam toilet juga dapat menjadi tempat di temukannya solusi yang selama ini justru dicari-cari. Karena pengalaman yang sama-sama dimiliki oleh teman-teman kampus lainnya yang terungkap dalam toilet.

Meskipun demikian, tetaplah mempergunakan toilet sebagaimana fungsinya. Tentunya kenyamanan adalah hak setiap orang, jadi akan sangat mengganggu bila perkumpulan yang terjadi di toilet umum justru membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan keberadaan kita.

 

 

 

c. Perilaku kebiasaan di toilet kampus

Selain untuk buang air kecil, biasanya saya di toilet kampus untuk memperbaiki kerudung saya, sebab di toilet kampus disediakan cermin yang cukup besar.

d. Penyebab perbuatan saya

Mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial ini sangat berpengaruh terhadap perilaku saya sehari-hari. Biasanya saya sedikit cuek untuk lingkungan sekitar dan lebih mementingkan diri saya sendiri, namun dengan adanya mata kuliah ini, sangat membantu saya melakukan perubahan sedikit demi sedikit untuk lebih memerhatikan lingkungan di sekitar saya. Misalnya, ketika saya ke toilet pada waktu siang hari dan lampu toilet tersebut nyala, saya selalu mematikannya. Dan sampai sekarang hal tersebut sudah menjadi kebiasaan saya ketika pergi ke toilet siang hari dalam keadaan lampu nyala. Kemudian ketika saya melihat tisu berserakan dimana-mana di toilet, memang tidak ada tempat sampah di toilet tersebut (karena tidak disediakan oleh pihak kampus). Namun karena saya merasa malu, karena saya mahasiswi Pendidikan IPS yang sudah menjalani mata kuliah Pengembangan Keterampilan IPS, saya pun dengan teman-teman selalu memunguti tisu tersebut dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di lorong kampus (di luar toilet).

Saya sangat berharap, dimulai dengan rasa malu inilah menjadikan saya menjadi seseorang yang lebih bertanggung jawab lagi dengan lingkungan sekitar karena saya sudah memiliki ilmunya dan wajib saya implementasikan dan saya amalkan kepada orang lain. Saya pun harus bisa beradaptasi dengan semua perubahan yang terjadi dengan pemahaman yang tinggi akan masalah sosial tersebut. Semoga bermanfaat mengikuti mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial. Dan saya pun berterima kasih kepada dosen mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial, yang tiada henti selalu mengingatkan kami betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

  1. a. New Life Style masyarakat modern dalam hal mandi

Jika dulu kamar mandi hanya dianggap sebagai pelengkap dalam sebuah rumah, kini dengan makin meningkatnya kualitas hidup masyarakat modern, maka kamar mandi sudah menjadi sebuah gaya hidup dengan desain yang makin bagus.

Fenomena itulah yang mendasari baik para produsen kamar mandi hingga arsitek maupun interior desainer untuk melengkapi desain kamar mandi dan furniturnya. Karena kini kamar mandi tidak hanya tempat untuk membersihkan diri, tapi juga dapat sebagai tempat memanjakan tubuh dan pikiran melalui relaksasi.

Guna menjawab kebutuhan tersebut, tren bentuk kamar mandi pun bergeser ke arah modern dengan menggunakan elemen kaca. “Desain kamar mandi saat ini sudah mengalami pergeseran. Perkembangan segala sesuatu yang berbau modern, membuat kamar mandi mengikuti bentuknya yang modern pula. Hal itulah yang mendasari tren kamar mandi kini berubah menjadi transparan memakai elemen kaca,” kata S. Farida Alaydroes, Ketua Umum Himpunan Desainer Indonesia (HDII) ketika dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Minggu (30/3/2008).

Menurutnya, desain kamar mandi transparan yang saat ini sudah banyak digunakan bukan tidak mungkin menuai masalah, terutama di Indonesia. “Karena orang Indonesia masih menganut budaya timur yang privasinya tinggi dibandingkan dengan orang asing, maka desain kamar mandi transparan tidak bisa diaplikasikan oleh semua orang. Budaya Indonesia masih banyak menganut bahwa kamar mandi harus tertutup,” papar owner PT In Desain Interspace Estetika itu.

New Life Style masyarakat modern dalam hal mandi tidak hanya ruangan kamar mandinya yang modern, tetapi biasanya mereka pergi ke jacuzzi, sauna, dan tempat-tempat umum yang menyediakan fasilitas mandi yang berbau modern.

Tempat umum inilah yang menjadikan masyarakat modern memanfaatkannya untuk mendukung pekerjaan dan kehidupan politik mereka. Biasanya mereka menggunakan tempat itu untuk mendiskusikan bisnis yang mereka jalankan dan pembicaraan-pembicaraan politik yang mereka hadapi. Sehingga fungsi sosial di sini berlangsung, karena adanya komunikasi antar dua individu atau lebih.

 

b. Perkembangan wc, toilet, atau kamar mandi dari zaman ke zaman

Dari semenjak manusia ada, kebutuhan untuk toilet sudah ada. Mari lihat perkembangan bentuk-bentuk toilet dari masa ke masa, dari masa jaman dulu sampai masa jaman edan dan jaman obsesi.

a. Masa kuno dulu

Toilet dimasa ini masih hanya berbentuk bangunan temporar dan terkesan seadanya dimana hanya untuk memenuhi kebutuhan, masih belum dijadikan sebagai hiasan atau dekorasi.

b. Masa modern

Toilet dimasa ini bertambah fungsinya dari yang hanya untuk mencukupi kebutuhan buang air, sekarang sudah dijadikan alat untuk dekorasi ruangan atau hiasan. Sehingga muncul lah toilet-toilet bagus/cantik.

c. Masa edan

Toilet di masa edan ini sudah kelihatan adanya keanehan dari fungsi toilet itu sendiri. Dari hanya untuk mencukupi kebutuhan, untuk dekorasi. Pada masa edan ini, toilet sudah mulai dijadikan bahan lelucon. Maka muncullah bentuk toilet dan gambar-gambar lelucon sekitar toilet tersebut. Atau bahkan toilet di masa edan ini sudah bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk hewan.

d. Masa terobsesi

Toilet di masa ini fungsinya sudah berubah dari yang untuk mencukupi kebutuhan, untuk dekorasi, dsb. Di masa ini toilet boleh dibilang bisa mencukupi kebutuhan bagi orang-orang yang terobsesi baik terobsesi kerja maupun obsesi barang-barang berbau porno. Bahkan toilet sudah bisa dibawa ke mana-mana.

  1. Keterampilan sosial yang terkait dengan life styledalam hal menggunakan toilet
    1. Membaca simbol

Keterampilan membaca simbol dalam toilet biasanya terletak di bagian pintu, apakah itu toilet perempuan atau laki-laki. Terkadang masih saja orang salah masuk toilet, entah karena terburu-buru atau memang tidak bisa membaca simbol. Simbol hendaknya bersifat fleksibel sehingga orang awam pun mampu membaca simbol tersebut.

  1. Berkomunikasi

Tentu saja komuniksi akan berjalan jika kita berada di toilet umum, misal toilet kampus. Dengan teman kelas kita berbincang-bincang, baik itu membicarakan masalah kampus maupun masalah pribadi. Hal ini menunjukkan adanya interaksi antar individu ketika berada di toilet.

  1. Memimpin

Memimpin disini maksudnya, ketika kita dihadapkan pada keadaan orang-orang mengantri untuk masuk toilet, namun ada yang orang masuk begitu saja tanpa mengantri dengan alasan “kebelet” atau dia lebih tua dari yang mengantri. Di sinilah peran kita untuk memimpin hal tersebut. Keterampilan sosial kita harus digunakan dengan mengambil kebijakan siapa yang pantas untuk terlebih dahulu masuk toilet.

  1. Memecahkan masalah

Ini adalah kelanjutan dari sikap memimpin diatas, apabila kita mampu memimpin dengan baik maka kita sudah memecahkan masalah di ada di hadapan kita tersebut.

  1. Sikap demokratis

Mana yang harus kita dahulukan. Ketika ada orang orangtua yang mengantri di depan toilet, apakah sikap kita mendahulukan orang tua tersebut atau menghiraukannya saja, karena kita sama-sama dalam kondisi ingin menggunakan toilet, baik itu untuk buang air kecil atau besar. Kalau saya dihadapkan seperti masalah diatas, ada dua alternatif pilihan yang akan saya lakukan. Jika kondisi saya sedang kebelet, dan saya lebih dulu mengantri dibanding dengan orangtua tersebut, saya akan memilih untuk masuk toilet dan meminta maaf terlebih dahulu kepada orangtua tersebut karena saya sudah kebelet. Dan jika kondisi saya masih bisa untuk menahan buang air (kecil/besar), dan saya pun lebih dulu mengantri di banding  dengan orangtua tersebut. Saya akan mendahulukan orangtua tersebut, karena di satu sisi lebih mengahargai orang yang lebih tua dan di satu sisi saya masih bisa manahan buang air (kecil/besar).

  1. Peduli sosial

Keterampilan sosial kita harus digunakan dengan mengambil kebijakan siapa yang pantas untuk terlebih dahulu masuk toilet, misalnya dalam kondisi ada antrian panjang untuk masuk toilet, namun ada orang yang lebih tua yang ingin masuk toilet terlebih dahulu. Sikap kita harus bisa menentukan mana yang harus di dahulukan, apakah mendahulukan orang yang lebih tua? Atau mendahulukan orang yang sudah mengantri? Disinilah kepedulian sosial kita sangat dibutuhkan.

  1. Peduli lingkungan

Lingkungan harus tetap kita jaga dimana pun kita berada. Baik itu kamar mandi sendiri maupun di toilet umum. Ketika kita dihadapkan pada kondisi lingkungan yang tidak baik, misalnya banyak tisu yang berserakan di toilet. Apa yang akan kita lakukan? Tentu saja memungut tisu tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.

Kita harus peduli terhadap lingkungan walaupun tindakan yang kita lakukan mungkin bagi sebagian orang tidak pantas tetapi jika tidak diri kita sendiri, mau siapa lagi??

 

“Mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, dan mulailah HARI INI!”

DAFTAR PUSTAKA

 

http://andriksugianto.com/gengsi-atau-fungsi.html

http://www.kulinet.com/baca/fungsi-lain-dari-sebuah-toilet/850/

http://id.88db.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail.page?kid=735

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s