KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

Standar

KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

  1. A.     

KURIKULUM

PENGERTIAN

KEUNTUNGAN

KELEMAHAN

Kurikulum sebagai produk

Hasil karya para pengembang kurikulum yang dituangkan dalam bentuk buku atau pedoman kurikulum yang biasanya berisi sejumlah mata pelajaran yang harus diajarkan.

Kemungkinan yang dapat dilakukan terkait dengan arah dan tujuan pendidikan secara lebih konkret dalam sebuah dokumen yang untuk selanjutnya diberi label kurikulum.

Adanya pemaknaan yang sempit terhadap kurikulum. Dalam hal ini kurikulum hanya dipandang sebagai dokumen yang memuat serentetan daftar pokok bahasan materi dari suatu mata pelajaran.

Kurikulum sebagai program

(Hilda Taba)

Suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang prodiktif dalam masyarakat, ( yang terdiri dari tujuan dan sasaran, selektif dan organisasi, bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan pembelajaran, dan akhirnya evaluasi).

  • Dengan cepat dapat menunjukkan dan menjelaskan apa yang dimaksud kurikulum dengan lebih konkret.
  • Dapat memahami bahwa kegiatan pembelajaran dapat terjadi dalam setting yang berbeda pada jenjang yang berbeda.

Munculnya asumsi bahwa apa yang tampak dalam daftar pokok bahasan, itulah yang harus dipelajari siswa.

 

Kurikulum sebagai pengalaman

(Smith B. Othanel Et Al)

Rangkaian pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak-anak (potensial curriculum) dan yang dapat benar-benar diwujudkan pada anak-anak secra individual (actual curriculum).

  • Pihak guru maupun sekolah lebih memusatkan perhatiannya pada siswa dalam proses pembelajaran.
  • Guru akan lebih melibatkan semua pengalaman siswa.

Kurikulum terasa lebih abstrak dan menjadi sangat komprehensif, sehingga tidak dapat dideskripsikan dalam bentuk yang sederhana. Sebagai konsekuensinya muncul terminology mengenai kurikulum eksplisit (tertulis) dan implicit (tidak tertulis) atau kurikulum tersembunyi (hidden curriculum).

 

  1. Berdasarkan UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, “Kurikulum adalah seperangkat rancana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”.

Pengertian yang paling mendekati pemaknaannya yaitu kurikulum sebagai program karena kurikulum sebagai program secara esensial merupakan kurikulum yang berbentuk program-program pembelajaran secara riil (nyata). Kurikulum sebagai program dapat termanifestasikan dalam serentetan daftar pembelajaran atau pokok bahasan yang diajarkan pada kurun waktu tertentu seperti halnya dalam kurun waktu satu semester.

  1. Masa depan bangsa terletak dalam tangan generasi muda. Mutu bangsa di kemudian hari bergantung pada pendidikan yang ditempuh oleh anak-anak sekarang. Terutama melalui pendidikan formal yang diterima di sekolah. Apa yang akan dicapai di sekolah ditentukan oleh kurikulum sekolah itu. Dengan demikian barang siapa yang menguasai kurikulum memegang nasib bangsa dan Negara. Maka dapat dipahami kurikulum sebagai alat yang begitu vital bagi perkembangan bangsa dipegang oleh pemerintah suatu Negara. Oleh sebab itu setiap guru merupakan kunci utama dalam pelaksanaan kurikulum, maka ia harus pula memahami seluk beluk kurikulum.
  2. B.     1.
    1. Faktor filosofis, yang berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesuai dengan filsafat Negara. Sekolah bertujuan mendidik agar anak menjadi manusia yang “baik”. Apakah yang dimaksud dengan yang “baik” pada hakikatnya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita atau filsafat yang dianut Negara, tetapi juga orangtua, masyarakat bahkan dunia. Landasan filsafat ini dibagi menjadi dua, yaitu landasan kebangsaan dan landasan pendidikan.
    2. Faktor psikologis, yang memperhitungkan factor anak dalam kurikulum, yakni :
  • Psikologi anak, sekolah didirikan untuk anak, untuk kepentingan anak yakni menciptakan situasi-situasi dimana anak dapat belajar untuk mengembangkan bakatnya, dan perkembangan anak.
  • Psikologi belajar, bagaimana proses belajar anak. Pendidikan di sekolah diberikan dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa anak-anak dapat di didik, dapat dipengaruhi kelakuannya. Anak-anak dapat belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, dapat mengubah sikapnya, dapat menerima norma-norma, dan dapat menguasai sejumlah keterampilan.
  1. Faktor sosiologis, yakni keadaan masyarakat, perkembangan dan perubahannya, kebudayaan manusia, hasil kerja manusia berupa pengtahuan dan lain-lain. Anak tidak hidup terisolasi sendiri, membutuhkan manusia lainnya, ia selalu hidup dalam suatu masyarakat. Di sana ia harus memenuhi tugas-tugas yang harus dilakukannya dengan penuh tanggung jawab, baik sebagai anak, maupun sebagai orang dewasa kelak.
  2. Faktor organisatoris, yang mempertimbangkan bentuk dan organisasi bahan pengajaran yang akan disajikan, seperti :
  • Sparasi (subject center), yaitu pengajaran dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah (asosiasi). Tiap mata pelajaran disampaikan sendiri-sendiri tanpa ada hubungannya dengan mata ajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu, dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan siswa, semua materi diberikan sama.
  • Broad-field, yaitu system mata pelajaran yang diperluas. Beberapa mata ajaran yang sejenis dan memiliki cirri-ciri yang sama dikorelasikan atau difungsikan dalam satu bidang pengajaran, misalnya bidang studi bahasa, meliputi membaca, bercerita, mengarang, dan bercakap-cakap.
  • Terintegrasi, yaitu memadukan berbagai mata pelajaran (aliaran teori belajar Gestalt).

2. Kurikulum itu dibuat dan dirancang sesuai dengan kondisi masyarakat tertentu. Jika di dalam suatu masyarakat terjadi perubahan, baik itu perubahan social maupun budaya, maka kurikulum akan menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Hal ini berlaku di Indonesia, perubahan lingkungan pendidikan dapat dilihat dari perubahan berbagai macam kebutuhan siswa, harapan masyarakat yang tinggi dan tuntutan kebijakan pendidikan yang sangat kuat terhadap perubahan pendidikan, tida hanya pada tingkat nasional, melainkan juga tingkat sekolah.

Indonesia mengalami 7 kali perubahan kurikulum yaitu pada tahun 1947, 1952, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006.

Hamalik (2003: 19) menyebutkan bahwa dalam perubahan kurikulum dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:

  1. Tujuan filsafat pendidikan nasional yang dijadikan yang dijadikan sebagai dasar untuk merumuskan tujuan institusional yang pada gilirannya menjadi landasan merumuskan tujuan kurikulum suatu satuan pendidikan.
  2. Sosial budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
  3. Keadaan lingkungan (interpersonal, kultural, biokologi, geokologi).
  4. Kebutuhan pembangunan POLISOSBUDHANKAM.
  5. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan sistem nilai dan kemanusiaan serta budaya bangsa.

Kurikulum itu mengandung kebaikan, sedangkan kurikulum pasti tidak akan sempurna dan akan tampil kekurangannya setelah berjalan dalam beberapa waktu. Oleh Karena itu, kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang mampu memprediksi di masa yang akan datang dan mengambil yang positif dari masa lampau.

Jadi, ada hubungannya antara kurikulum dengan perubahan-perubahan social budaya masyarakat Indonesia.

 

 

 

 

 

 

  1. C.     

1. KURIKULUM dan PEMBELAJARAN

2. PT. Bumi Aksara, Maret 2010

3. Ringkasan Esensial buku

Buku ini memberikan petunjuk praktis tentang cara mengembangkan kurikulum dan menghubungkannya dalam pengajaran kelas. Khususnya bagi calon guru yang sebelumnya harus memahami terkebih dahulu seluk beluk kurikulum, sehingga tidak akan kesulitan ketika praktek di lapangan, karena mutu pendidikan bergantung pada mutu guru dan pemahamannya tentang kurikulum.

Secara esensial buku ini menjelaskan tentang kependidikan, mulai dari proses pendidikan, dasar pengembangan kurikulum, hakikat belajar, hakikat pembelajaran, tujuan belajar dan pembelajaran, dasar pembelajaran, motivasi belajar, pendekatan dalam pembelajaran, pendekatan CBSA dalam pembelajaran, serta evaluasi belajar dan pembelajaran.

Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan, bagi peranannyadi masa yang akan dating.

Di dalam pendidikan tentunya harus adanya kurikulum. Dalam UU. No. 2 tahun 1989 dikemukakan, bahwa “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar”. Belajar adalah suatu program perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya.

Hakekat pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur, yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran tersebut merupakan bagian integral dari system pembelajaran.

Asas-asas belajar yang dinilai cukup dominan mendasari pembelajaran ialah :

  1. Tujuan belajar yang disadari oleh siswa.
  2. Motivasi belajar yang bersumber dari kebutuhan, dorongan dan kesadaran siswa.
  3. Informasi balikan terhadap hasil belajar siswa.
  4. Transfer belajar kedalam situasi senyatanya.

Motivasi adalah suatu perubahan energy dalam diri seseorang yang ditandai oleh timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi belajar ini akan mempengaruhi pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran. Salah satunya yaitu cara belajar siswa aktif (CBSA) yaitu suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitikberatkan pada keaktifan siswa.

Diakhir pembahasan dalam buku ini menjelaskan tentang evaluasi belajar dan pembelajaran. Evaluasi merupakan upaya untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Evaluasi hasil belajar berfungsi diagnostik, untuk seleksi, untuk kenaukan kelas, dan untuk penempatan.

 

4.Manfaat membaca dan memahami buku

Dengan membaca dan memahami buku “Kurikulum dan Pembelajaran” oleh Oemar Hamalik, dapat membantu saya dalam memperkaya dan memperluas pengetahuan saya mengenai kurikulum dan pembelajaran. Dengan penyampaian yang praktis namun dapat dipahami dengan jelas tentang cara mengembangkan dan menghubungkannya dalam pengajaran kelas. Walau masih ada istilah-istilah yang kurang dipahami namun tidak mengurangi kesempurnaan buku ini.

Dalam jangka panjang ini akan membantu saya dalam menjalankan tugas sebagai guru suatu saat nanti. Ketika dalam prakteknya, mudah-mudahan saya tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas sebagai pencerdas bangsa karena saya sudah cukup memahami seluk beluk kurikulum.

Dalam jangka pendek ini, manfaat yang saya rasakan dengan membaca dan memahami buku tersebut yakni dapat membantu saya dalam menyelesaikan soal ujian tengah semester ini. Mudah-mudahan dengan proses yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s