Gangguan Jiwa

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. a.      Latar Belakang

Orang yang memiliki kesehatan mental yang baik sekalipun tidak bisa bebas dari kecemasan dan perasaan bersalah. Dia tetap mengalami kecemasan dan perasaan bersalah tetapi tidak dikuasai oleh kecemasan dan perasaan bersalah itu. Ia sanggup menghadapi masalah-masalah biasa dengan penuh keyakinan diri dan dapat memecahkan masalah-masalah tersebut tanpa adanya gangguan yang hebat pada struktur dirinya.

Dengan kata lain, meskipun ia tidak bebas dari konflik dan emosinya tidak selalu stabil, namun ia dapat mempertahankan harga dirinya. Keadaan yang demikian justru berkebalikan dengan apa yang terjadi pada orang yang mengalami kesehatan mental yang buruk.

Mengingat semakin pesatnya usaha pembangunan, modernisasi dan industrialisasi yang mengakibatkan semakin kompleknya masyarakat, maka banyak muncul masalah-masalah sosial dan gangguan/disorder mental di kota-kota besar. Makin banyaklah warga masyarakat yang tidak mampu melakukan penyesuaian diri dengan cepat terhadap macam-macam perubahan sosial. Mereka itu mengalami banyak frustasi, konflik-konflik terbuka/eksternal dan internal, ketegangan batin dan menderita gangguan mental.

Salah satu klasifikasi gangguan mental yaitu retardasi mental atau biasa kita sebut dengan tunagrahita. Tunagrahita adalah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata – rata. Tunagrahita adalah kata lain dari cacat mental. Anak Tunagrahita memiliki keterbatasan dalam hal berfikir, kemampuan berfikir rendah, perhatian dan daya ingatnya rendah, suka berfikir abstrak serta kurang mampu berfikir logis.

Kondisi anak Tunagrahita kecerdasannya jauh di bawah rata – rata yaitu IQ 70 kebawah, sehingga sukar untuk mengikuti program pendidikan di sekolah biasa. Oleh karena itu Anak Tunagrahita harus diberikan pelajaran yang khusus yakni disesuaikan dengan kebutuhan anak itu sendiri.

 

  1. b.      Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan gangguan mental?
    2. Apa faktor-faktor yang menyebabkan gangguan mental?
    3. Apa klasifikasi dari gangguan mental?
    4. Klasifikasi dan penanganan anak tuna grahita?

 

  1. c.       Tujuan Penelitian
    1. Untuk mengetahui definisi gangguan mental.
    2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan gangguan mental.
    3. Untuk mengetahui klasifikasi dari gangguan mental.
    4. Untuk mengetahui klasifikasi dan cara-cara penanganan anak tuna grahita.

 

  1. d.      Metode Penelitian

Metode penelitian yang kami gunakan yaitu dengan metode deskriptif dengan studi literatur dari berbagai sumber, seperti buku dan media cetak (koran) serta instrumen penelitian dan teknik pengumpulan datanya melalui wawancara dan observasi.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A. Pengertian Gangguan Mental

            Gangguan mental adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri (Djamaludin, 2001). Gangguan mental adalah gangguan dalam cara berpikir (cognitive), kemauan (volition),emosi (affective), tindakan (psychomotor) (Yosep, 2007). Gangguan mental menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Menurut Townsend (1996) gangguan mental adalah respon maladaptive terhadap stressor dari lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu fungsi sosial, kerja, dan fisik individu.

 

B. Penyebab Timbulnya Gangguan Mental

            Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan tidak adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbatas, kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa yang disebabkan faktor organik, kelainan saraf dan gangguan pada otak (Djamaludin, 2001).

            Para ahli psikologi berbeda pendapat tentang sebab-sebab terjadinya gangguan jiwa. Menurut pendapat Sigmund Freud dalam Maslim (2002), gangguan jiwa terjadi karena tidak dapat dimainkan tuntutan id (dorongan instinctive yang sifatnya seksual) dengan tuntutan super ego (tuntutan normal social). Orang ingin berbuat sesuatu yang dapat memberikan kepuasan diri, tetapi perbuatan tersebut akan mendapat celaan masyarakat. Konflik yang tidak terselesaikan antara keinginan diri dan tuntutan masyarakat ini akhirnya akan mengantarkan orang pada gangguan jiwa.

Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga, secara somato-psiko-sosial. Gangguan mental artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang patologik dari unsur psikis. Hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain tidak terganggu. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan, usia dan Jenis Kelamin, keadaan fisik, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar manusia, dan sebagainya.

Perkiraan jumlah penderita beberapa jenis gangguan mental yang ada dalam satu tahun di Indonesia.

  1. Psikosa fungsional 520.000
  2. Sindroma otak organik akut 65.000
  3. Sindroma otak organik menahun 130.000
  4. Retradasi mental 2.600.000
  5. Nerosa 6.500.000
  6. Psikosomatik 6.500.000
  7. Gangguan kepribadian 1.300.000
  8. Ketergantungan obat 1.000

Sumber penyebab gangguan mental dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :

  1. Faktor-faktor somatik (somatogenik)
  • Neuroanatomi
  • Neurofisiologi
  • Neurokimia
  • Tingkat kematangan dan perkembangan organik
  • Faktor-faktor pre dan peri – natal
  1. Faktor-faktor psikologik ( psikogenik)
  • Interaksi ibu –anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan)
  • Peranan ayah
  • Persaingan antara saudara kandung
  • Inteligensi
  • Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
  • Kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah
  • Konsep diri : pengertian identitas diri sendiri versus peran yang tidak menentu
  • Keterampilan, bakat dan kreativitas
  • Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
  • Tingkat perkembangan emosi
  1. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
  • Kestabilan keluarga
  • Pola mengasuh anak
  • Tingkat ekonomi
  • Perumahan : perkotaan lawan pedesaan
  • Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
  • Pengaruh rasial dan keagamaan
  • Nilai-nilai

 

C. Klasifikasi Gangguan Kejiwaan

Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) menyusun klasifikasi gangguan kejiwaan  sebagai berikut:

Urutan hierarki blok diagnosis (berdasarkan luasnya tanda dan gejala, dimana urutan hierarki lebih tinggi memiliki tanda dan gejala yang semakin luas):

 

  1. F00-09 dan F10-19
  2. F20-29
  3. F30-39
  4. F40-49
  5. F50-59
  6. F60-69
  7. F70-79
  8. F80-89
  9. F90-98
  10. Kondisi lain yang menjadi focus perhatian klinis (kode Z)

F0 Gangguan Mental Organik, termasuk Gangguan Mental Simtomatik

Gangguan mental organic = gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit/gangguan sistemik atau otak. Gangguan mental simtomatik = pengaruh terhadap otak merupakan akibat sekunder penyakit/gangguuan sistemik di luar otak.

Gambaran utama:

  • Gangguan fungsi kongnitif
  • Gangguan sensorium – kesadaran, perhatian
  • Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang persepsi (halusinasi), isi pikir (waham), mood dan emosi

Fl Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Alkohol dan Zat Psikoaktif Lainnya

F2 Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham

Skizofrenia ditandai dengan penyimpangan fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran jernih dan kemampuan intelektual tetap, walaupun kemunduran kognitif dapat berkembang kemudian

F3 Gangguan Suasana Perasaan (Mood [Afektif])

Kelainan fundamental perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya kearah depresi (dengan atau tanpa anxietas), atau kearah elasi (suasana perasaan yang meningkat). Perubahan afek biasanya disertai perubahan keseluruhan tingkat aktivitas dan kebanyakan gejala lain adalah sekunder terhadap perubahan itu

F4 Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform dan Gangguan Terkait Stres

F5 Sindrom Perilaku yang Berhubungan dengan Gangguan Fisiologis dan Faktor Fisik

F6 Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa dewasa

Kondisi klinis bermakna dan pola perilaku cenderung menetap, dan merupakan ekspresi pola hidup yang khas dari seseorang dan cara berhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain. Beberapa kondisi dan pola perilaku tersebut berkembang sejak dini dari masa pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai hasil interaksi faktor-faktor konstitusi dan pengalaman hidup, sedangkan lainnya didapat pada masa kehidupan selanjutnya.

F7 Retardasi Mental

Keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh. Dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lain. Hendaya perilaku adaptif selalu ada.

 

F8 Gangguan Perkembangan Psikologis

Gambaran umum

  • Onset bervariasi selama masa bayi atau kanak-kanak
  • Adanya hendaya atau keterlambatan perkembangan fungsi-fungsi yang berhubungan erat dengan kematangan biologis susunan saraf pusat
  • Berlangsung terus-menerus tanpa remisi dan kekambuhan yang khas bagi banyak gangguan jiwa

Pada sebagian besar kasus, fungsi yang dipengaruji termasuk bahasa, ketrampilan visuo-spasial, koordinasi motorik. Yang khas adalah hendayanya berkurang secara progresif dengan bertambahnya usia

F9 Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Biasanya Pada Masa Kanak dan Remaja

Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat (Maramis, 1994). Anak dengan gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan. Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma dapat mengakibatkan perubahan kepribadian. Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku anak, dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah, maka dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah.

 

           

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

A. PENGKAJIAN

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah anak “bego”, atau kata yang lebih kasar lagi “anak gila”. Itulah sebutan atau predikat untuk anak tunagrahita. Bahkan ada yang mengatakan anak cacat (tuna) adalah sebagai kutukan, pembawa sial, karena perbuatan tidak senonoh orang tuanya. Sehingga setiap orang tua yang mempunyai anak cacat (tuna) merasa malu dan menyembunyikan anak tersebut. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa anak cacat adalah anak yang membawa hoki, membawa keberuntungan. Itulah kenyataan yang terjadi di masyarakat.

Kami memperoleh data dalam pengkajian dari pengelola SLB, keluarga anak,  media cetak, studi literatur,  pengkajian dengan anak dilakukan dengan observasi ke SLB. Pada pengkajian data yang muncul pada hasil observasi adalah gangguan emosi: anak merasa senang, gembira yang berlebihan. Anak merasa sebagai orang penting, sebagai raja, pengusaha, orang kaya, orang yang paling ganteng, tetapi di lain waktu ia bisa merasa sangat sedih, menangis, tak berdaya (depresi) sampai ada ide ingin mengakhiri hidupnya. Gangguan psikomotor : Hiperaktivitas, klien melakukan pergerakan yang berlebihan naik ke atas genting berlari, berjalan maju mundur, meloncat-loncat, melakukan apa-apa yang tidak disuruh atau menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak atau melakukan gerakan aneh.

 

B. DIAGNOSA TUNA GRAHITA

 

            Salah satu bentuk dari kecacatan mental  adalah Tuna Grahita. Tuna Grahita merupakan keterbatasan substansial dalam memfungsikan diri. Keterbatasan ini ditandai dengan terbatasnya kemampuan fungsi kecerdasan yang terletak dibawah rata-rata (IQ 70 atau kurang) dan       ditandai dengan terbatasnya kemampuan tingkah laku adaptif minimal di 2 area atau lebih. (tingkah laku adaptif berupa kemampuan komunikasi, merawat diri, menyesuaikan dalam kehidupan rumah, ketrampilan sosial, pemanfaatan sarana umum, mengarahkan diri sendiri, area kesehatan dan keamanan, fungsi akademik, pengisisan waktu luang,dan kerja) Disebut Tuna Grahita bila manifestasinya terjadi pada usia dibawah 18 tahun. Berdasarkan American Association on Mental Retardation ada beberapa klasifikasi tuna grahita  yaitu sebagai berikut.:

  1.  Golongan Tuna Grahita yang ringan disebut juga maron atau debil yaitu mereka yang masih bisa dididik pada masa dewasanya kelak, usia mental yang bisa mereka capai setara dengan anak usia 8 tahun hingga usia 10 tahun 9 bulan. Dengan rentang IQ antara 55 hingga 69. Pada usia 1 hingga 5 tahun, mereka sulit dibedakan dari anak-anak normal, sp ketika mereka menjadi besar. Biasanya mampu mengembangkan ketrampilan komunikasi dan mampu mengembangkan ketrampilan sosial. Kadang-kadang pada usia dibawah 5 tahun merekamenunjukkan sedikit kesulitan sensorimotor. Pada usia 6 hingga 21 tahun, mereka masih bisa mempelajari ketrampilanketrampilan akademik hingga kelas 6 SD pada akhir usia remaja, pada umumnya sulit mengikuti pendidikan lanjutan, memerlukan pendidikan khusus.
  2. Tuna Grahita golongan moderate disebut juga imbesil, masih bisa dilatih (mampu latih). Kecerdasannya terletak sekitar 40 hingga 51, pada usia dewasa usia mentalnya setara anak usia 5 tahun 7 bulan hingga 8 tahun 2 bulan. Biasanya antara usia 1 hingga usia 5 tahun mereka bisa berbicara atau bisa belajar berkomunikasi, memiliki kesadaran sos ial yang buruk, perkembangan motor yang tidak terlalu baik, bisa diajari untuk merawat diri sendiri, dan bisa mengelola dirinya dengan supervivi dari orang dewasa. Pada akhir usia remaja dia bisa menyelesaikan pendidikan hingga setara kelas 4 SD bila diajarkan secara khusus.
  3. Tuna Grahita yang tergolong parah disebut juga idiot, atau yang sering disebut sebagai Tuna Grahita yang mampu latih tapi tergantung pada orang lain. Rentang Iqnya terletak antara 25 hingga 39. Pada masa dewasanya dia memiliki usia mental setara anak usia 3 tahun 2 bulan hingga 5 tahun 6 bulan. Biasanya perkembangan motoriknya buruk, bicaranya amat minim, biasanya sulit dilatih agar bisa merawat diri sendiri (harus dibantu), seringkali tidak memiliki ketrampilan berkomunikasi.

            Para tuna grahita yang berada di SLB yang kami kunjungi ada yang diantar oleh orang tuanya, sehingga setiap hari diantar jemput. ada pula yang berasal dari jalan, karena keterlantarannya sehingga dinas sosial mengambil dan memasukannya ke SLB yang sesuai dengan  kebutuhannya dan dibimbing oleh pihak yang bersangkutan Ia pun bermukim diasrama yang sudah disediakan pemerintah.

 

C. PERAN DUKUNGAN LINGKUNGAN TERHADAP PENGEMBANGAN ANAK TUNA GRAHITA

 

            Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa anak Tuna Grahita memang memiliki kemampuan yang sangat terbatas, namun masih memiliki secercah harapan bahwa dia masih mungkin dilatih, dibimbing , diberi kesempatan dan didukung agar mereka mengembangkan potensi-potensinya agar mampu membantu dirinya sendiri dan memiliki harga diri yang sama seperti orang orang

lainnya yang lebih beruntung. Intinya adalah agar anak bisa memfungsikan potensi potensi yang masih ada dalam dirinya terutama agar dia bisa menjalani hidup yang bermartabat. Berdasarkan asumsi ini maka ditegaskan posisi pendidikan dan posisi pengembangan anak Tuna Grahita. Gambar di bawah ini merupakan sebuah gambar yang dipinjam dari AAMR (Wicks-Nelson,1997) untuk menggambarkan posisi anak Tuna Grahita serta menggambarkan peran keluarga, peran para ahli dan peran masyarakat/pemerintah.

            Bila dirinci lebih lanjut, bisa dikatakan bahwa, walaupun anak Tuna Grahita memiliki kemampuan kecerdasan yang terbatas, mereka masih bisa dioptimalkan melalui teknik-teknik pendidikan tertentu agar bisa mengembangkan tingkah laku- tingkah laku tertentu yang diperlukan agar bisa hidup dalam sebuah masyarakat . Tingkah laku-tingkah laku apa yang bisa dikembangkan digolongkan dalam tingkah laku yang disebut sebagai tingkah laku adaptif, yaitu tingkah laku yang terkait dalam 10 area hidup. Derajat penguasaan tingkah laku-tingkah laku tersebut juga amat ditentukan oleh derajat keparahan gangguan kecerdasannya (juga derajat gangguan-gangguan penyertanya). Hingga hari ini, telah berkembang berbagai teknik pembelajaran yang ditujukan untuk anak Tuna Grahita. Siapa yang bertanggung jawab mengembangkan tingkah laku adaptif tersebut? Seharusnya sekolah, rumah, lingkungan masyarakat dan negara, yang tujuannya selain agar anak bisa mengembangkan tingkah laku adaptif, juga seyogyanya mengembangkan anak agar bisa bekerja sesuai dengan kemampuannya.

            Fakta bahwa anak tuna Grahita bermasalah karena poternsi kecerdasannya kurang. Namun demikian telah berkembang konsep-konsep pengajaran yang mendukung optimasi/ pemfungsian potensi anak Tuna Grahita (Lihat Snell,Martha E,1978). Faktor lingkungan , rumah, sekolah masyarakat merupakan sebuah faktor yang bisa membantu memfungsikan potensi anak tuna Grahita. bagaimana agar rumah, sekolah, masyarakat dan lingkungan kerja di masyarakat bisa membantu mendukung agar anak Tuna Grahita bisa memfungsikan potensi-potensinya.

 

D. USAHA-USAHA PREVENTIF UNTUK MENGATASI GANGGUAN MENTAL

 

Yang patut diingat bahwa gangguan jiwa atau gangguan mental oleh faktor-faktor sosial dan kultural yang eksternal itu sifatnya dapat dihindari, baik itu dengan jalan psikoterapi yang diberikan kepada individu yang mengalami gangguan kepribadian atau penyakit jiwa dan boleh juga melalui terapi psikologis. Menurut penelitian mengungkapkan bahwa beberapa pasien yang mendapat psikoterapi kondisinya malah bertambah buruk. Dan hasil dari psikoterapi sampai kini belum mencapai tingkat yang memuaskan.

Selain itu tidaklah penting melakukan terapi atas berbagai penyakit setelah terjadi terapi, justru yang lebih penting dan lebih baik adalah mencegah penyakit tersebut serta berupaya agar hal itu tidak sampai terjadi atau paling tidak kita berusaha meminimalkannya dengan usaha-usaha diantaranya sebagai berikut :

  1. Memperbaiki kebiasaan makan, bernafas, tidur, dan aktifitas sex. Jangan mencegah atau mengurangi makan dan kualitasnya harus seimbang, jangan menuruti kemauan tanpa batas. Usahakan untuk menghindari udara kotor dan berdebu, akan bermanfaat untuk kesehatan fisik dan kesehatan mental. Perbaiki kebiasaan tidur, terlalu banyak tidur tidak efisien bagi tubuh, dan jika terlalu banyak tidur misalnya karena memaksakan diri untuk bekerja akan menyebabkan timbulnya penyakit.
  2. Mengeluarkan dan membicarakan kesulitan jika ada masalah uraikan masalah yang mengganggu batin, jangan disimpan dan disembunyikan. Uraikan masalah tersebut pada orang yang kita percaya misalnya pada suami atau istri, orangtua, dokter, teman, sahabat, guru, dan seterusnya. Dengan mengeluarkan ganjalan hati itu akan meringankan beban dalam batin, serta dapat membantu dalam melihat persoalan dari segi yang lebih terang dan lebih objektif.
  3. Menghindari kesulitan untuk sementara waktu, misalnya dengan jalan membaca baca, melihat bioskop atau pertandingan, main sport atau berekreasi pendek, tanpa memikirkan kepelikan yang terjadi.
  4. Tidak banyak konflik yang serius dan tidak banyak konflik dengan lingkungan.
  5. Menerima segala kritik dengan lapang dada

Salah satu cara untuk sehat adalah dapat menerima kritik dari orang lain. Orang lain yang mengkritik kita merupakan orang yang menginginkan perbaikan pada diri kita. Sikap kita dapat menerima kritik adalah sifat dewasa penuh toleransi dalam hal ini toleransi diri dan bersedia mendapat teguran orang lain merupakan hal positif. Orang yang berbuat sesuatu akan banyak menerima banyak kritikan dan dia dapat belajar dari pengalaman. Hanya orang-orang yang dapat belajar dari pengalaman yang dapat maju dan akan sehat jiwa dan mentalnya.

  1. Berbuat suatu kebaikan untuk orang lain dan memupuk sosialitas atau kesosialan

Jika anda terlalu sibuk dengan diri sendiri atau terlalu terlibat dalam kesulitan-kesulitan sendiri, cobalah berbuat sesuatu demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Hal ini akan menumbuhkan rasa harga diri, rasa berpartisipasi di dalam masyarakat dan bisa memberikan arti atau satu nilai individu kepada kita. Juga memberikan rasa kepuasan dan kemudahan, karena kita merasa berguna. Perbuatan tadi akan membuat kita kepada penelitian diri sendiri, distansi diri dan instropeksi. Dan rasa lebih cepat mengeluarkan kita dari gangguan batin, egosentrisme, serta ketegangan. Semua itu akan dapat menumbuhkan rasa kehangatan, rasa simpati dan rasa kasih sayang pada sesama manusia dan akan memupuk kesehatan jiwa dan raga.

  1. Menyalurkan kemarahan

Kemarahan sebagai pola tingkah laku, sering membuat kita jadi menyesal dan membuat diri anda jadi ketolol-tololan. Jika kita berhasrat menggembur seseorang dengan satu ledakan serangan kemarahan cobalah menunda terjadinya ledakan tadi sampai esok hari. Dalam pada itu sibukkanlah diri sendiri, misalnya dengan berkebun, main sport atau berjalan-jalan melihat keindahan alam, dan lain-lain. Dengan menghapus kemarahan yang sudah hampir meletus, pastilah  kita akan lebih mampu dan lebih siap menghadapi segala kesulitan secara intelejen dan rasional, sebab kemarahan-kemarahan hebat yang berlangsung lama, berulang-ulang dan kronis sifatnya. Sifatnya itu dapat menyebabkan timbulnya tekanan darah tinggi atau hypertension dan gejala neurosa yang gawat.

  1. Jangan menganggap diri terlalu super

Ada orang yang merasa takut memutuskan sesuatu, karena ia merasa tidak dapat mencapainya sesuai dengan apa yang dicita-citakan, sebab tidak sesuai dengan standar normatif yang dipeluknya. Biasanya ia menginginkan kesempurnaan di dalam segala hal. Maka kecenderungan-kecenderungan semacam ini merupakan pangkal permulaan dari kegagalan-kegagalan.

  1. Menyadari keterbatasan

Berfikir bahwa dirinya adalah seorang yang mempunyai keterbatasan. Banyak hal-hal dalam kehidupan ini tidak dimengerti dan bersedia menerima kenyataan tersebut karena keterbatasan kita. Berfikir positif karena menerima kenyataan, kita menyadari keterbatasan berarti menerima segala konsekuensi atas keterbatasan tersebut dan tidak kecewa atas keadaan tersebut.

  1. Bersikap religius

Dengan selalu memelihara kebersihan jiwa serta bersikap religius adalah sangat membantu dalam proses pencegahan penyakit kejiwaan. Sikap ini pada dasarnya adalah bertindak yang positif, menjauhi pekerjaan-pekerjaan yang negatif serta menyerahkan diri pada Yang Maha Kuasa. Sikap berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk kesehatan fisik dan terutama kesehatan mental.

 

E. HASIL WAWANCARA

 

            Pada tanggal 9 November 2011, kami melakukan observasi lapangan ke SLB-C YPLB yang berada di Jalan Hegar Asih no. 1-3 Cipaganti, Bandung. Sekolah luar biasa ini khusus untuk anak-anak yang menyandang cacat tunagrahita.

Kami mewawncarai ibu yang dari seorang anak yang keterbelakangan mental, anak itu bernama Tirta anak itu berumur 7 tahun tetapi anak itu bertingkah laku seperti anak umur 3 tahun dan IQ nya di bawah rata-rata anak seusianya , maka dari itu ibunya memutuskan Tirta bersekolah di SLB itu.

Menurut penuturan ibunya sewaktu lahir Tirta mengalami kejanggalan seperti tidak menangis sewaktu baru lahir dan Tirta juga sempat mengalami kejang-kejang, step, epilepsi dan koma selama beberapa hari karena otak  kirinya mengalami infeksi yang menjadikan IQ Tirta rendah.

Menurut penyelidikan para ahli (tunagrahita) dapat terjadi :

  1. Prenatal (sebelum lahir)

Yaitu terjadi pada waktu bayi masih ada dalam kandungan, penyebabnya seperti : campak, diabetes, cacar, virus tokso, juga ibu hamil yang kekurangan gizi, pemakai obat-obatan (naza) dan juga perokok berat.

  1. Natal (waktu lahir)

Proses melahirkan yang sudah, terlalu lama, dapat mengakibatkan kekurangan oksigen pada bayi, juga tulang panggul ibu yang terlalu kecil. Dapat menyebabkan otak terjepit dan menimbulkan pendarahan pada otak (anoxia), juga proses melahirkan yang menggunakan alat bantu (penjepit, tang).

  1. Pos Natal (sesudah lahir)

Pertumbuhan bayi yang kurang baik seperti gizi buruk, busung lapar, demam tinggi yang disertai kejang-kejang, kecelakaan, radang selaput otak (meningitis) dapat menyebabkan seorang anak menjadi ketunaan (tunagrahita).

Di sekolahnya, Tirta cenderung individualis, jarang bergaul dengan teman-temannya dan masih mencontoh dan meniru oranglain, Tirta juga merupakan anak yang aktif dan bisa disebut hyper aktif, jika sedang di kelas Tirta sama sekali tidak bisa diam di tempat duduknya, dia bisa berjalan-jalan kemana saja bahkan sampai meninggalkan kelas itu, dan jika sedang belajar atau mengerjakan pekerjaan rumahnya pun semau dia, tergantung mood dari Tirta, jika Tirta sedang malas dan tidak mau mengerjakan PR, ibunya tidak bisa memaksa karena kalau di paksa Tirta ngamuk. Penanganannya pun jika Tirta sedang ngamuk, ibunya langsung memberi apa yang menjadi kemauan dari Tirta dan jika disekolah biasanya yang menangani kalau Tirta sedang marah oleh gurunya, atau bisa oleh temannya sendiri di kelas dengan mengajak ngobrol atau bermain.

Karakteristik atau ciri-ciri anak tunagrahita dapat dilihat dari segi :

  1. Fisik (Penampilan)
  • Hampir sama dengan anak normal
  • Kematangan motorik lambat
  • Koordinasi gerak kurang
  • Anak tunagrahita berat dapat kelihatan
  • Sulit mempelajari hal-hal akademik.
  • Anak tunagrahita ringan, kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 12 tahun dengan IQ antara 50 – 70.
  • Anak tunagrahita sedang kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 7, 8 tahun IQ antara 30 – 50
  • Anak tunagrahita berat kemampuan belajarnya setaraf anak normal usia 3 – 4 tahun, dengan IQ 30 ke bawah.
  • Bergaul dengan anak yang lebih muda.
  • Suka menyendiri
  • Mudah dipengaruhi
  • Kurang dinamis
  • Kurang pertimbangan/kontrol diri
  • Kurang konsentrasi
  • Mudah dipengaruhi
  • Tidak dapat memimpin dirinya maupun orang lain.
  1. Intelektual
  1. Sosial dan Emosi

 

Perasaan mamah Tirta disaat mengetahui anaknya mempunyai kelainan tidak seperti anak-anak lainnya, si ibu tidak lantas pasrah dan mengucilkan anaknya. Pertama yang ibu itu lakukan adalah mencari solusi penyembuhan untuk penyakit seperti ini memeriksakan ke dokter dan terapi. Dan ibunya pun tidak gengsi dan malu ataupun gengsi mempunyai anak yang berkebutuhan khusus, karena menurut ibunya, ibunya sudah sangat bersyukur asalkan anak ini sudah mau sekolah pun itu sudah cukup untuk ibu itu.

Setelah itu, kami pun mewawancarai salah satu guru yang ada disana, yaitu dengan Bu Heni, beliau menyebutkan bahwa di SLB ada 2 program kelas, yaitu kelas C dan C1. Kelas C adalah kelas anak yang mempunyai IQ diatas 50 sedangkan kelas C1 adalah anak tuna grahita dan mempunyai IQ dibawah 50, yang membedakannya bisa dilihat dari tes psikologi/intelegensinya yang bisa dilakukan di rumah sakit karena di sekolah itu tidak memfasilitasi untuk tes psikologi.

Di sekolah terdapat 100 lebih murid yang menempati beberapa kelas dari mulai TK, SD, SMP, SMA dan ada kelas keterampilan. Sekolah ini menerima anak dari umur di atas 5 tahun dan untuk kelas keterampilan diterima dari umur 20 tahun lebih dan biasanya yang memasuki kelas keterampilan dititipkan orang tuanya di asrama sekolah itu.

Yayasannya pun bekerja sama dengan dinas sosial, tenaga pengajar disana pun ada 23 lebih, gurunya berasal dari UPI dan guru bidang studi lainnya. Disini tidak terdapat guru khusus untuk menangani khusus anak yang sedang mengalami masalah seperti ngamuk, dsini para guru bekerja sama semua.

Penanganan di sekolahnya pun hanya pelayanan pendidikan saja, memberikan pendidikan sesuai dengan anak dan mengembangkan potensi anak dan mengajari anak supaya mandiri.

Menurut guru itu yang menjadi faktor penyebab dari anak mengalami keterbelakangan mental bisa terjadi dari: Faktor pranatal ( sebelum lahir) seperti ibunya perokok dan mengkonsumsi minuman keras, proses kelahirannya kurang steril, jatuh disaat kecil, dari makanan yang di konsumsi dan bisa dari step atau kejang

Dan banyak orang tua yang kurang mengerti dan mempunyai beban mental , sehingga anak seperti itu di kucilkan bahkan ada yang sampai di buang karena orang tua tidak kuat menanggung malu.

KURIKULUM

Dalam memberikan layanan pendidikan tidak terlepas dari yang namanya kurikulum. Kurikulum sebagai pedoman bagi sekolah. Kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan tugasnya. Kurikulum untuk Sekolah Luar Biasa disesuaikan dengan jenis dan tingkat ketunaannya, mulai dari tingkat TKLB sampai dengan SMALB.

Kurikulum yang sekarang ini digunakan yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004. Selain mempelajari mata pelajaran umum, ada juga mata pelajaran ke khususan, untuk anak tunagrahita yaitu mata pelajaran “Bina Diri” didalamnya mencakup:

  • Kemampuan merawat diri
  • Mengurus diri
  • Menolong diri
  • Komunikasi dan Sosialisasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

  1. a.      Kesimpulan

 

Gangguan jiwa atau mental illness adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri (Djamaludin, 2001).

Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :

–          Faktor- Faktor-faktor psikologik ( psikogenik) :

–          Faktor somatik (somatogenik)

–          Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)

Klasifikasi Gangguan Kejiwaan

Tuna Grahita merupakan keterbatasan substansial dalam memfungsikan diri. beberapa klasifikasi tuna grahita  yaitu sebagai berikut.:

  1.  Tuna Grahita golongan moderate
  2. Golongan Tuna Grahita yang ringan
  3. Tuna Grahita yang tergolong parah

anak Tuna Grahita memang memiliki kemampuan yang sangat terbatas, namun masih memiliki secercah harapan bahwa dia masih mungkin dilatih, dibimbing , diberi kesempatan dan didukung agar mereka mengembangkan potensi-potensinya agar mampu membantu dirinya sendiri dan memiliki harga diri yang sama seperti orang orang lainnya yang lebih beruntung.

Hal yang lebih penting dan lebih baik adalah mencegah penyakit tersebut serta berupaya agar hal itu tidak sampai terjadi atau paling tidak kita berusaha meminimalkannya dengan usaha-usaha diantaranya sebagai berikut :

  1. Memperbaiki kebiasaan makan, bernafas, tidur, dan aktifitas sex.
  2. Mengeluarkan dan membicarakan kesulitan
  3. Menghindari kesulitan untuk sementara waktu
  4. Tidak banyak konflik yang serius dan tidak banyak konflik dengan lingkungan.
  5. Menerima segala kritik dengan lapang dada.
  6. Berbuat suatu kebaikan untuk orang lain dan memupuk sosialitas atau kesosialan
  7. Menyalurkan kemarahan
  8. Jangan menganggap diri terlalu super
  9. Menyadari keterbatasan
  10. Bersikap religius

Menurut penyelidikan para ahli (tunagrahita) dapat terjadi :

  1. Prenatal (sebelum lahir)
  2. Natal (waktu lahir)
  3. Pos Natal (sesudah lahir)

Karakteristik atau ciri-ciri anak tunagrahita dapat dilihat dari segi :

  1. Fisik (Penampilan)
  2. Intelektual
  3. Sosial dan emosi

 

 

  1. b.      Saran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kartini Kartono, Patologi Sosial, jakarta, 2007.

Departemen Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan; 1993.

Maslim R. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh Jaya; 2001.

Yustinus Semiun. 2010, Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius

 http://www.scribd.com/doc/55858510/Definisi-Gangguan-Jiwa

http://imron46.blogspot.com/2009/02/faktor-penyebab-gangguan-jiwa.html

http://fransiscakumala.wordpress.com/2010/02/09/definisi-klasifikasi-gangguan-jiwa-dan-diagnosis-multiaksial/

http://perawatpskiatri.blogspot.com/2009/03/gangguan-jiwa-atau-mental-disorder.html

http://ww8.yuwie.com/blog/entry.asp?id=932768&eid=602755

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s