Pembangunan Karakter Individu di Era Globalisasi

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Karakter suatu masyarakat khususnya generasi muda adalah identitas masyarakat itu sendiri, yang diekspresikan dan dipancarkan dari kebudayaan masyarakat. Manusia harus dipandang sebagai subyek yang dapat berpikir, merancang kehidupan, dan memproduksi sesuatu. Peran negara hanya sebagai fasilitator jangan lagi mendominasi sebagai kekuasaan sentral.

Pada jaman sekarang perhatian anak muda hanya terpusat kepada pembangunan ekonomi dengan orientasi ke fisik. Dengan karakter demikian tak mengherankan apabila di kalangan anak muda tumbuh subur sifat-sifat materialisme, praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta berbagai jenis perilaku tidak terpuji lainnya. Karakter anak muda saat ini sudah abai dari pembangunan kemanusiaan. Sejak tahun 1974 Koentjaraningrat sebagai Bapak Antropologi Indonesia sudah mengingatkan kita jauh hari tentang pentingnya pembangunan karakter bangsa.

Di era globalisasi ini seorang individu harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Generasi muda dapat berperan menghadapi segala macam persaingan di era globalisasi, yang semakin ketat sekarang ini. Hendak ke mana generasi muda Indonesia ini dibawa?. Sebuah pertanyaan yang harus segera dicari jawabannya. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas tentang pembangunan karakter individu di era globalisasi.

B.     Rumusan Masalah

    1. Apa yang dimaksud dengan karakter?
    2. Apa saja faktor-faktor yang dapat membangun karakter individu?
    3. Apa media penunjang pembangunan karakter individu itu?
    4. Apa tantangan dari globalisasi?
    5. Bagaimana cara menghadapi tantangan dari globalisasi?
    6. Adakah dampak dari globalisasi terhadap pembentukan karakter individu?
  1. C.    Tujuan Penulisan
    1. Untuk mengetahui pengertian karakter.
    2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat membangun karakter individu.
    3. Untuk mengetahui media penunjang pembangunan karakter individu.
    4. Untuk mengetahui dampak era globalisasi.
    5. Untuk mengetahui cara menghadapi era globalisasi.
    6. Untuk mengetahui dampak dari globalisasi terhadap pembentukan karakter individu.
  2. D.    Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun yang dimaksud dengan metode deskriptif adalah suatu metode yang berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang dihadapi dalam situasi sekarang. Dalam penulisan yang menggunakan metode deskriptif ini ada beberapa tahapan yakni pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan/analisis data, serta penggambaran tentang sesuatu keadaan secara objektif dalam suatu deskripsi situasi.

BAB II

LANDASAN TEORITIS

 a. Pengertian Karakter

Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.

Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan.

 b. Karakteristik Individu

Marslow dan Gidson (1996:181) menggambarkan karakteristik individu yang didefinisikan sebagai orang yang beraktualisasi diri.

  1. Kemampuan mempersepsi orang dan kejadian-kejadian dengan akurat.
  2. Kemampuan melepas diri sendiri dari kekalutan malu.
  3. Orientasi masalah tugas.
  4. Kemampuan untuk memperoleh kepuasan pribadi dari pengembangan pribadi dalam melakukan sesuatu hal yang berharga.
  5. Kapasitas untuk mencintai dan menjalani kehidupan dengan cara yang sangat mendalam.
  6. Ketertarikan pada tujuan apa yang mereka sedang kerjakan
  7. Kreatifitas yang tinggi dalam bekerja.

Setiap orang mempunyai pandangan, tujuan, kebutuhan dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Karakteristik individu dalam penulisan ini yaitu sikap.

  1. Nilai

Menurut Woods, Nilai merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Norma

Norma merupakan aturan-aturan dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan untuk mendorong bahkan menekan orang perorangan, kelompok atau masyarakat secara keseluruhanuntuk mencapai nilai-nilai sosial.

3. Sikap (attitude)

Menurut Robbins (2003) sikap adalah pernyataan evaluatif-baik yang menguntungkan atau tidak menguntungkan-mengenai objek, orang, atau peristiwa. Dalam penelitian ini sikap akan difokuskan bagaimana seseorang merasakan atas pekerjaan, kelompok kerja, penyedia dan organisasi.

4. Perilaku

Menurut Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. Perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil.

c. Pengertian Globalisasi

Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:

  • Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
  • Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
  • Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
  • Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
  • Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

 

BAB III

PEMBAHASAN MASALAH

 A.    Pengertian Karakter

Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.

Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan.

Beberapa patah kalimat perihal karakter yang tertuang dalam buku Koentjaraningat, yang masih sangat relevan sebagai bahan perenungan. Karakter tersebut merupakan gambaran mentalitas generasi muda saat ini, yaitu :

  1. Mentalitas yang meremehkan mutu.
  2. Mentalitas suka menerabas.
  3. Sifat tidak percaya kepada diri sendiri.
  4. Sifat tidak berdisiplin murni.
  5. Sifat tidak bertanggung jawab.
    B.     Faktor-faktor Pembentukan Karakter

Menurut Roucek dan Warren menyatakan bahwa ada tiga factor yang dapat mempengaruhi pembentukan karakter seorang individu, yaitu:

  1. Faktor biologis atau fisik, contohnya seorang yang mempunyai cacat fisik atau penampilannya kurang ideal, akan rendah diri, pemalu, sukar bergaul, dan sebagainya sehingga akan mempengaruhi pembentukan karakternya.
  2. Faktor psikologis atau kejiwaan. Factor psikologis yang dapat mempengaruhi pembentukan karakter seorang individu antara lain unsure temperamen seperti agresifitas, pemarah, pemalu, hasrat atau keinginan, dan sebagainya. Selain itu keterampilan dan kemampuan belajar juga dapat mempengaruhi karakter seseorang.
  3. Faktor sosiologis atau lingkungan, yaitu factor yang membentuk karakter seseorang menjadi sesuai dengan perilaku atau karakter kelompok atau lingkungan masyarakatnya. Contohnya, orang yang lahir di daerah pedesaan cenderung memiliki karakter yang ramah, memiliki solidaritas dan kolektivitas yang tinggi, serta keterikatan dengan lingkungan alam yang kuat. Sebaliknya, orang yang dilahirkan di daerah perkotaan cenderung memiliki karakter masyarakat kota yang lebih individualitas, rasa solidaritas dan kolektivitas yang kurang, dan sebagainya.

Koentjaraningrat menganalisis bahwa pembentukan karakter seorang individu dipengaruhi oleh unsure-unsur berikut ini :

  1. Unsur pengetahuan, yaitu unsur yang bersumber dari pola piker yang rasional. Bentuknya dapat berupa gambaran atau pandangan diri (persepsi) seorang individu tentang sesuatu hal, atau pengamatan terhadap suatu hal secara intensif dan terfokus, serta kreatifitas untuk mengemukakan pendapat (konsep). Keseluruhan persepsi, pengamatan, dan konsep tersebut merupakan unsure-unsur pengetahuan yang dapat mempengaruhi karakter seorang individu.
  2. Unsur perasaan, baik yang bersifat positif maupun negative terhadap suatu hal atau keadaan yang terjadi. Contohnya, bila terjadi penurunan produksi hasil pertanian, maka bagi para penimbun dianggap sebagai pertanda baik (positif) untuk mencari keuntungan, sedangkan bagi para konsumen dianggap sebagai pertanda buruk (negatif) karena akan menimbulkan kenaikan harga produk-produk pertanian.
  3. Unsur naluri atau dorongan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup baik yang bersifat rohaniah maupun jasmaniah. Naluri atau dorongan semacam ini tidak semata-mata bersumber dari pengetahuan atau akal pikiran seorang individu, tetapi sudah terkandung secara kodrati. Contohnya, naluri untuk memenuhi kebutuhan pokok akan makanan dan minuman, naluri untuk memenuhi rasa aman dan damai.

Soerjono Soekanto seorang ahli sosiologi dari Indonesia juga mengemukakan bahwa secara sosilogis proses terbentuknya karakter seorang individu diperoleh melalui proses sosialisasi. Proses ini dimulai sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya. Melalui proses sosialisasi ini seorang individu mendapatkan pembentukan sikap dan perilaku yang sesuai dengan perilaku kelompoknya atau masyarakatnya.

C.    Media Penunjang Pembangunan Karakter

1. Keluarga

Keluarga merupakan media awal dari suatu proses sosialisasi. Begitu seorang bayi dilahirkan, ia sudah berhubungan dengan kedua orangtuanya, kakak-kakaknya, dan mungkin dengan saudara-saudara dekatnya yang lain. Peran orangtua lebih dominan memberi perhatian kepada anak.

2. Pendidikan

Wahana pendidikan seperti tim pengajar dalam artian guru dilaksanakan secara terintegrasi. Pada pendidikan tingkat dasar, peran guru sangat besar dan bahkan dominant untuk mempengaruhi dan membentuk pola perilaku anak didik. Peran guru dalam memberi motivasi dan mendorong keberhasilan studi anak sangat besar. Hal itu akan berpengaruh pada tahap pendidikan selanjutnya. Para guru sebagai wakil orang tua tidak hanya bertugas memberikan pengajaran tetapi juga bimbingan karier kepada para peserta didik. Anak dituntut untuk dapat menetapkan sendiri pilihan ke masa depan sesuai bakat dan kemampuannya.

3. Masyarakat

Pembentukan kepribadian dan wahana pengenalan serta pengimplementasian dari nilai dan norma.

4. Pemerintah

Sebuah wahana yang dapat memberi keteladanan pada masyarakat oleh para pelaksana fungsi pemerintahan.

5. Media massa

Media massa yang terdiri atas media cetak (surat kabar, majalah) maupun elektronik (radio, televise, dan film), merupakan alat komunikasi yang dapat menjangkau masyarakat secara luas. Media massa diidentifikasikan sebagai media sosialisasi yang berpengaruh pula terhadap perilaku khalayaknya.

D.    Tantangan Globalisasi

Globalisasi sesungguhnya sudah lama terjadi, yakni sejak abad 19, yaitu sejak adanya kontak dagang kerajaan-kerajaan di kepulauan Nusantara dengan para pedagang Eropa yang berujung pada penjajahan. Kemudian tingkat dan skala globalisasi juga kian pesat seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi serta kemenangan kekuatan kapitalis atas kekuatan sosialis/komunis. menilai negative, karena ketimpangan penguasaan sumber daya (terutama modal) serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berpotensi untuk menguntungkan negara kuat dan merugikan negara lemah.

Khususnya, globalisasi terbentuk oleh adanya kemajuan di bidang komunikasi dunia. Ada pula yang mendefinisikan globalisasi sebagai hilangnya batas ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi informasi.

Ketua DPR RI Agung Laksono berpendpat bahwa globalisasi sebenarnya netral, tergantung bagaimana kita mengartikannya. Ada yang menilai globalisasi sebagai sesuatu yang positif karena memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada siapapun untuk bermain secara global. Namun ada pula yang menilai negative, karena ketimpangan penguasaan sumber daya (terutama modal) serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berpotensi untuk menguntungkan negara kuat dan merugikan negara lemah.

Gelombang globalisasi memasuki Dunia Ketiga tanpa mampu dibendung. Pasar bebas menjadi keniscayaan yang setiap saat bisa membinasakan siapapun yang tak mampu bertahan. Bagi masyarakat Dunia Ketiga, di manapun, ancaman itu kini bermetamorfosis menjadi badai garang yang siap menerkam. Tanpa kecuali.

Para petani akan terhisap tenaganya melalui perampasan nilai lebih yang semestinya dinikmati. Pada Dunia Ketiga akan mengulangi bentuk-bentuk kekejaman kapitalisme abad pertengahan. Di lain pihak, dahsyatnya industrialisasi pada Dunia Ketiga akan mengulangi bentuk-bentuk kekejaman kapitalisme abad pertengahan. Di mana kaum buruh dieksploitasi melalui cara-cara yang jauh di bawah standar kemanusiaan. Kejahatan menjadi ciri utama, dari bentuknya yang paling sederhana hingga dalam wujudnya yang tersamar dan berlindung di balik gagasan mengenai pembangunan. Aksi-reaksi berakhir di ujung puncaknya berupa kekerasan dan kegagalan menjawab berbagai soal kemiskinan dan kemanusiaan (Andrinof A. Chaniago: 2001).

Dengan segala keterbatasan, tentu saja dibutuhkan sebuah strategi pembangunan yang matang. Utamanya menyangkut peran dan fungsi negara dalam menyelamatkan kepentingan nasional. Satu di antaranya sebagaimana dirumuskan melalui postulat ideologis, yaitu asas kekeluargaan. Dan tentunya, siasat menyikapi pihak asing dan kapitalisme transnasional, serta pelbagai implikasi ketergantungan yang sangat mungkin ditimbulkan dari hubungan yang tak seimbang.

 

Ekonomi Rakyat dan Kemandirian

Semenjak gelombang krisis menerpa Indonesia, kegamangan menghinggapi seluruh lini kebijakan publik yang ditelurkan pemerintah. Tanda-tanda mengkhawatirkan menyergap dalam bentuk enggannya sebagian besar investor asing menanamkan modal di Indonesia. Termasuk juga di dalamnya bantuan setengah hati dari lembaga-lembaga donor seperti IMF maupun World Bank, yang memberi kesan kuat terjadinya boikot diam-diam dari masyarakat internasional (international community), khususnya Amerika, terhadap pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Habibie terdahulu. Ekonomi Indonesia diilustrasikan oleh Hal Hill sebagai the strange and sudden death of a tiger, harimau yang semula kuat namun akhirnya mati secara mengejutkan.

Dampaknya yang paling terasa dihadapi oleh dunia industri yang banyak memanfaatkan komponen asing dalam pengelolaannya. Roda industri relatif macet dan bahkan berhenti total. Ada banyak pabrik berhenti beroperasi akibat pailit dan terhentinya bantuan lunak serta proteksi yang sebelumnya biasa diterima.

Bagi hampir sebagian besar Dunia Ketiga, industrialisasi memang menjadi persoalan yang tak pernah berujung untuk dibahas. Berbagai teori lahir dan berkembang untuk menjawab berbagai soal kemiskinan, pengangguran, kebebasan, dan soal-soal kemanusiaan lainnya. Belum lagi anak-anak yang harus menjadi korban dari kerasnya—untuk tidak mengatakan jahatnya—pembangunan. Padahal di pundak merekalah negeri ini pastinya akan diwariskan.

Dalam kegelisahan semacam itu, ada sejumlah fenomena yang justru menarik untuk dicermati. Yaitu, ketika roda perekonomian yang terpuruk dalam banyak pandangan analis ekonomi justru tidak terlalu memberikan dampak yang begitu berarti di sejumlah kawasan. Atau setidak-tidaknya, roda perekonomian berjalan tidak sepesemis prediksi sejumlah ekonom yang menggunakan pendekatan makro-deduktif. Yang tak jarang sampai pada kesimpulan yang terkesan dangkal, terburu-buru, dan terlampau berani.

Pada kenyataannya, globalisasi dan liberasi perdagangan di era sekarang adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari, di samping memang sama sekali tidak bijak untuk menolaknya. Indonesia, dan negara-negara Dunia Ketiga lainnya, tak bisa menghindari diri dari kenyataan tersebut.

Untuk itu, sebuah strategi yang matang menghadapi persaingan pasar bebas mutlak diperlukan. Sebab bila tidak, Indonesia akan terus diterpa badai krisis panjang yang mengimplikasikan kebangkrutan Indonesia sebagai sebuah negara. 

 E.     Cara menghadapi tantangan Globalisasi

1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia

Globalisasi merupakan sebuah realita yang mau tak mau harus dihadapi bila sangsa Indonesia ingin tetap hidup sebagai bangsa yang berdaulat di dunia.

Cara untuk menghadapi dampak globalisasi yaitu dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya melalui pendidikan. Melalui pendidikan yang optimal, bangsa Indonesia dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga dapat bersaing di kancah dunia Internasional.

2. Meningkatkan Kualitas Nilai Keimanan Dan Moralitas Masyarakat

Globalisasi membuat budaya antar bangsa saling mempengaruhi. Karenanya keberadaan nilai-nilai keimanan dan moralitas menjadi sangat penting. Sebab nilai keimanan dan moralitas menjadi sangat penting. Sebab nilai-nilai keimanan dan moralitas itulah yang mampu mengatasi dampak negatif dari globalisasi.

Sebagai kaum Muslim, kita hendaknya menanamkan nilai-nilai Islam di kehidupan sehari-hari. Kita hendaknya menjalankan syariat Islam. Mengetahui mana yang halal dan haram. Sehingga kita dapat memilah-milah pengaruh dari luar.

Moralitas bangsa juga harus ditingkatkan. Di dalam era globalalisasi ini, moralitas bangsa cenderung menurun kualitasnya. Ini tidak lepas dari tanggung jawab orang tua, guru, dan pemerintah. Salah satu solusinya adalah melaksanakan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan.

3. Mendorong Dan Mendukung Upaya Pemerintah Indonesia Untuk Memperjuangkan Keadilan Antarbangsa

Salah satu dampak globalisasi adalah saling berkaitannya antara satu negara dengan negara lainnya. Baik dalam bentuk kerjasama ataupun persaingan global.

Pemerintah Indonesia harus berupaya sekuat tenaga untuk memperjuangkan keadilan dan keseimbangan antarbangsa. Upaya pemerintah tersebut harus selalu didorong dan didukung oleh setiap warga negaranya.

Sebagaimana yang kita ketahui, Indonesia merupakan 1 diantara 2 negara yang memberikan permohonan agar Israel menghentikan serangan ke Jalur Gaza. Ini membuktikan kepedulian bangsa kita terhadap perdamaian dan peradilan antarbangsa. Maka sebagai warga negara, hendaknya kita mendukung upaya pemerintah.

4. Mendorong Dan Mendukung Upaya Pemerintah Indonesia Untuk Mendesak Negara Maju Agar Memberikan Dana Perbaikan Lingkungan Hidup

Negara maju sangat diuntungkan dengan adanya globalisasi, sebab negara maju banyak yang memiliki perusahaan transnasional. Perusahaan tersebut biasanya berdiri di berbagai negara terutama di negara berkembang, termasuk di Indonesia.

Aktifitas perusahaan tersebut membuat lingkungan hidup menjadi rusak oleh pencemaran limbah atau asap pabriknya. Oleh sebab itu, sudah sepantasnyalah negara-negara maju menyisihkan uang guna mendanai upaya-upaya perbaikan dan pelestarian lingkungan hidup.

Tindakan ini sangat pantas diambil oleh Indonesia, karna buktinya banyak sekali hutan yang dijadikan perindustrian. Lahan hijau pun semakin sulit ditemukan di saerah perindustrian. Untuk memulihkan keadaan, Indonesia butuh dana dari perusahaan asing tersebut.

5. Meningkatkan Jiwa Dan Semangat Persatuan, Kesatuan, Dan Nasionalisme

Adanya globalisasi menjadi suatu tantangan yang berat bagi negara berkembang yang belum maju dan kuat. Negara yang masyarakatnya tidak mempunyai jiwa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme yang kuat akan dengan mudah dipermainkan oleh negara-negara maju. Oleh karna itu, semangat dan jiwa persatuan, kesatuan dan nasionalisme harus terus ditingkatkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Bila jiwa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme telah tertanam dengan kuat pada setiap warga negara Indonesia tidak akan mudah dipermainkan oleh negara-negara yang kuat dan maju.

6. Melestarikan Kebudayaan Dan Adat Istiadat Daerah

Globalisasi membuat budaya luar dapat dengan mudah kita ketahui. Pengetahuan akan budaya luar terkadang membuat masyarakat lebih menyukainya daripada budaya daerah sendiri.

Menyukai kebudayaan luar adalah hal yang wajar. Namun kita harus tetap melestarikan kebudayaan kita sendiri. Jangan sampai kebudayaan kita punah begitu saja seiring dengan waktu. Apalagi kebudayaan itu seenaknya saja diambil oleh bangsa lain. Betapa malunya kita?

Walaupun zaman kini telah serba modern, kita harus tetap berpegang teguh kepada adat istiadat. Apalagi kita sebagai masyarakat Minangkabau, dimana “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato, adat mamakai”.

7. Menjaga Keasrian Objek Wisata Dalam Negeri

Salah satu ciri-ciri globalisasi adalah perjalanan dan perlancongan antarbangsa yang semakin meningkat. Indonesia sebagai begara yang kaya akan objek-objek wisata yang indah hendaknya memanfaatkannya dengan seoptimal mungkin. Salah satu usaha adalah menjaga keasrian objek wisata tersebut.

Sebenarnya selain Bali, banyak lagi pulau-pulau di Indonesia yang memiliki tempat yang sangat indah untuk dikunjungi. Namun banyak lokasi yang tidak terjaga keasriannya sehingga tidak menarik untuk dikunjungi. Maka seharusnya masyarakat selalu menjaga keasrian objek wisata di daerah masing-masing.

Cara-cara menjaga keasrian objek wisata dalam negeri seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencoret-mencoret tembok, melakukan penghijauan disekitar pegunungan, tidak membuang sampah ke sungai yang nantinya bermuara ke laut, melestarikan terumbu karang, dan sebagainya.

 F.     Dampak globalisasi terhadap pembentukan karakter individu

Dampak Positif

  1. Perubahan Tata Nilai dan Sikap

Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.

2. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.

3. Tingkat Kehidupan yang lebih Baik

Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dampak Negatif

  1. Pola Hidup Konsumtif

Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

2. Sikap Individualistik

Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.

3. Gaya Hidup Kebarat-baratan

Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain.

4. Kesenjangan Sosial

Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial.

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Bangsa yang maju dan jaya tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, teknologi canggih ataupun kekayaan alamnya, tetapi utama dan terutama karena dorongan semangat dan karakter bangsanya.

Peran karakter bagi diri seorang manusia adalah ibarat kemudi bagi sebuah kapal. Karakter adalah kemudi hidup yang akan menentukan arah yang benar bahtera kehidupan seorang manusia.

Bangsa Indonesia telah membuktikan kebenaran bahwa bangsa maju dan jaya karena dorongan semangat dan karakter bangsanya, maupun kebenaran kata bijak yang mengatakan bahwa karakter adalah kemudi hidup dengan apa yang kita lihat ;
1908 menjadi Hari Kebangkitan Nasional, 1928 menjadi Hari Sumpah Pemuda,1945 Proklamasi Kemerdekaan.

Padahal, founding fathers kita yang pada waktu itu adalah pemuda, yang hidup di dalam negeri yang dijajah, dapat melakukan semua itu karena modalnya adalah dorongan semangat dan dimilikinya jati diri dan karakter yang ditempa dalam masa penjajahan.

Mengacu pada tata nilai yang kita pakai yang mengatakan bahwa when character is lost everything is lost, maka dari uraian di atas yang dapat kita simpulkan bahwa: bangsa yang didorong oleh karakter bangsanya akan menjadi bangsa yang maju dan jaya, sedangkan bangsa yang kehilangan karakter bangsanya maka bangsa ini akan sirna dari muka bumi.

B. Rekomendasi

Menghadapi era globalisasi, karakter generasi muda harus lebih meningkatkan pembangunan budi pekerti dan sikap menghormati, dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita itu harus memiliki sifat menghargai mutu, memiliki kesabaran untuk meniti usaha dari awal, adanya rasa percaya diri, memiliki sikap disiplin waktu bekerja, serta memiliki sifat mengutamakan tanggung jawab

Membangun karakter bangsa harus secara nyata dan realistis. Yaitu membangun keunggulan dan daya saing, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena yang dibutuhkan bangsa ini bukan Sumber Daya Alamnya melainkan Sumber Daya Manusianya itu sendiri, karena Sumber Daya Alam yang tersedia sungguh begitu melimpahnya di bumi pertiwi ini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kartono, Kartini. 2007. Patologi Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Rohman, Taufiq. 2005. Sosiologi. Jakarta: Yudhistira.

Koentjaraningrat. 2000. Kebuudayaan Mentalitas dan Pembanngunan.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum.

http://koleksi-skripsi.blogspot.com/2008/07/teori-pembentukan-karakter.html

http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=pengertian+karakter+menurut+para+ahli&aq=f&aqi=g10&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=a86637e519b879be

http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s