RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Standar

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

  1. A.    IDENTITAS MATA PELAJARAN

Satuan Pendidikan      :

Kelas                           : VIII (Delapan)

Semester                      : II (Dua)

Mata Pelajaran            : Ilmu Pengetahuan Sosial

Jumlah Perempuan      : 2 x Pertemuan / 3 x 35 menit

  1. B.     STANDAR KOMPETENSI

Memahami usaha persiapan kemerdekaan

  1. C.    KOMPETENSI DASAR

Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa sekitar proklamasi dan proses terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia

  1. D.    INDIKATOR

–          Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa sekitar proklamasi

–          Mengidentifikasi proses terbentuknya NKRI

–          Menyebutkan 5 tokoh pahlawan yang terlibat dalam proses proklamasi

  1. E.     TUJUAN PEMBELAJARAN

–          Siswa dapat menjelaskan peristiwa-peristiwa sekitar proklamasi

–          Siswa dapat menjelaskan proses terbentuknya NKRI

–          Siswa dapat menyebutkan 5 tokoh pahlawan yang terlibat dalam proses proklamasi

  1. F.     ALOKASI WAKTU

Waktu             : 6 jam pelajaran

Pukul               : 07.30 – 09.15

  1. G.    METODE PEMBELAJARAN

–          Ceramah

–          Eksplorasi buku

–          Diskusi

–          Tanya jawab

  1. H.    KEGIATAN PEMBELAJARAN

PERTEMUAN 1

Kegiatan Awal (5 menit)

–          Siswa memberikan respon atas kehadiran yang dibacakan oleh guru;

–          Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang diterangkan guru;

–          Siswa menjawab apersepsi guru.

Kegiatan Inti (90 menit)

–          Siswa menyimak penjelasan guru tentang proses terjadinya proklamasi;

–          Siswa menjelaskan kembali proses terjadinya proklamasi;

–          Siswa berdiskusi tentang ……….;

–          Siswa mengungkapkan hasil diskusi;

–          Siswa mengerjakan latihan;

–          Siswa mengumpulkan pekerjaan.

Kegiatan Akhir (25 menit)

–          Siswa menyimak balikan yang dijelaskan guru;

–          Siswa membuat kesimpulan.

PERTEMUAN 2

Kegiatan Awal (5 menit)

–          Siswa memberikan respon atas kehadiran yang dibacakan guru;

–          Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang diterangkan guru;

–          Siswa menjawab apersepsi guru.

Kegiatan Inti (75 menit)

–          Siswa menyimak penjelasan guru tentang proses terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia;

–          Siswa mengadakan tanya jawab tentang proses terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia;

–          Siswa berdiskusi tentang ………….;

–          Siswa mengungkapkan hasil diskusi;

–          Siswa mengingat materi yang telah dipelajari.

Kegiatan Akhir (30 menit)

–          Siswa menyimak balikan yang dijelaskan guru;

–          Siswa membuat kesimpulan dengan bimbingan guru;

–          Siswa mengerjakan soal evaluasi yang ditugasi guru;

–          Siswa mengumpulkan hasil pekerjaan.

  1. I.       PENILAIAN HASIL BELAJAR

Prosedur                      : Pada saat kegiatan inti

Jenis Penilaian             : tes perbuatan & tes tulis

Bentuk Penilaian         : objektif

Alat penilaian              : soal dan portofolio

  1. J.      Sumber belajar

–          Buku pelajaran

–          LKS

RANGKUMAN INTERAKSI MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN

Standar

BAB 6

INTERAKSI MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN

  1. 1.      PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MANUSIA

Salah satu unsur penting dalam Iingkungan hidup adalah manusia. Manusia secara biologis tergolong dalam homo sapiens . Manusia adalah mahluk hidup yang paling canggih, paling sempurna, karena memiliki kelebihan dibandingkan dengan mahluk-mahluk hidup lainnya. Ia memiliki bentuk fisik, fungsi tubuh serta karakteristik pertumbuhan fisiknya yang berbeda dengan hewan-hewan lainnya.

read

PENGEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL

Standar

Mendeskripsikan perubahan perilaku yang terkait dengan keterampilan sosial di kamar mandi, toilet atau wc setelah mengikuti mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial

Sebelum membahas perubahan perilaku yang terkait dengan keterampilan sosial di toilet, wc, dan kamar mandi, saya akan membahas terlebih dahulu mengenai perbedaan kecil antara kamar mandi, toilet atau wc. Kalau kamar mandi itu digunakan untuk mandi, sementara wc atau toilet itu sebenarnya hanya digunakan untuk aktifitas kecil yang tidak memerlukan suplai air dalam skala besar. Seperti buang air kecil dan buang air besar, atau sekedar cuci muka, dan berdandan. Saya tidak mensinonimkan wc ini dengan kamar kecil, karena ada juga wc yang ukurannya besar.

  1. a. Kondisi Fisik toilet kamar mandi sendiri.

Kamar mandi saya berukuran 180 cm x 150 cm, memang kecil tapi cukup untuk ukuran satu orang untuk mandi. Meskipun kecil saya sangat nyaman bila melakukan aktifitas mandi di kamar mandi saya ini, karena penerangannya sangat baik dan ada ventilasinya, sehingga udara bisa keluar masuk dan kamar mandi saya pun tidak pengap. Bak mandi yang berukuran 50 cm x 40 cm dan di sebelahnya ada kloset jongkok yang masih berfungsi dengan baik. Kondisi pintunya pun masih berfungsi dengan baik. Posisi kamar mandi saya menghadap ke arah selatan dan terletak di sebelah dapur. Air yang mengalir ke kamar mandi itu berasal dari air PDAM.

Drainase kamar mandi saya mengalir ke selokan kecil di samping rumah, tetapi untuk drainase untuk buang air besar, sudah disediakan “septink tank” tersendiri yang ada di kebun sebelah rumah sehingga tidak mencemari sungai. Tapi, memang sangat disayangkan drainase untuk air bekas mandi, cuci baju, dan cuci piring mengalir ke selokan kecil karena akan mengakibatkan matinya organisme air karena limbah yang dihasilkan oleh hasil buangan air dari rumah saya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, warga sekitar yang dikoordinir oleh ketua RT setiap hari minggu selalu diadakan kegiatan kerja bakti yang salah satu kegiatannya yaitu membersihkan selokan. Sehingga dapat sedikitnya membantu mengembalikan kehidupan organisme air dan ketua RT biasanya memberikan saran agar tidak terlalu sering membuang limbah ke selokan.

b. Fungsi kamar mandi

Fungsi utama dari kamar mandi saya adalah fungsi higienis karena kamar mandi menjadi salah satu tempat dimana untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di badan, serta fungsi biologis yaitu untuk buang air kecil dan besar.

Jika di lihat dari fungsi sosial mungkin hanya sedikit, bukan di kamar mandi tetapi di tempat mencuci pakaian, karena tempat mencuci pakaian di rumah saya terpisah dengan kamar mandi, jadi ada ruangan tersendiri. Fungsi ini dapat berjalan apabila saya sedang membantu ibu mencuci pakaian, biasanya saya suka berbincang-bincang dengan ibu supaya pekerjaan mencuci pakaian pun tidak terasa berat.

c. Perilaku kebiasaan di kamar mandi

Kebiasaan saya ketika sedang di dalam kamar mandi yaitu menyanyi. Padahal hal tersebut sudah dilarang oleh orangtua saya katanya “pamali”, tapi entah mengapa saya selalu melakukannya. Mungkin hal inilah sudah menjadi kebiasaan sehingga sulit untuk dirubahnya.

d. Pandangan saya tentang itu semua

Bagi sebagian orang mungkin menganggap kamar mandi itu hal yang sepele, namun bagi saya tidak. Ada orang bijak yang berkata bahwa “Jika kita ingin melihat kepribadian seseorang itu bagaimana, hal yang harus pertama dilihat yaitu kondisi dari kamar mandinya itu sendiri.” Peran kamar mandi di sini sangat penting, jika kamar mandinya itu jorok dan berantakan, maka kepribadian orangnya juga tidak jauh berbeda dengan kondisi kamar mandinya itu, begitupun sebaliknya.

Saya termasuk orang yang sangat menjaga kebersihan apalagi itu kamar mandi sendiri yang nantinya juga akan membawa manfaat bagi saya sendiri. Jadi, saya selalu menjaga agar kamar mandi saya tetap bersih dan sehat. Selama itu tidak menganggu kehidupan orang lain dan ada manfaat bagi saya sendiri jika saya tetap menjaga kebersihan kamar mandi saya sendiri.

  1. a. Kondisi fisik toilet kampus

Kondisi toilet kampus dibandingkan dengan kamar mandi yang ada di rumah saya sangat jauh berbeda. Kalau kamar mandi saya masih menggunakan kloset jonggok, di kampus khususnya di gedung FPIPS menggunakan kloset duduk. Disini terlihat sekali perbedaannya, semakin kehidupan orang tersebut terpengaruh dengan modernisasi maka kondisi toiletnya pun akan modern. Nah, dari sini pula terjadi cultural shock dimana bagi mahasiswa yang berasal dari daerah cenderung tidak begitu memahami penggunaan toilet duduk, sehingga mereka tetap saja jonggok menggunakan toilet duduk. Mengapa saya bisa berkata demikian?. Ini merupakan pengalaman pribadi saya, ketika saya hendak buang air kecil, klosetnya sangat kotor. Ini indikasi orang sebelum saya menggunakan kloset duduk dengan cara jonggok sehingga menimbulkan klosetnya menjadi kotor. Padahal di awal perkuliahan penggunaan kloset duduk serta manfaatnya sudah dijelaskan oleh Dekan II.

Semakin modern, semakin praktis, namun semakin membawa dampak yang negatif. Misalnya, penerangan di toilet kampus sangat bagus, sehingga meskipun siang hari lampu tetap menyala. Sangat disayangkan sekali. Karena hal ini akan memboros energi listrik kampus. Keterampilan sosial seseorang kurang, karena mereka seakan dimanjakan oleh teknologi yang ada.

Ada beberapa masalah yang saya perhatikan di toilet kampus, yaitu:

  1. Akhir-akhir ini terjadi kekurangan air di gedung gedung FPIPS. Ini bukan masalah sepele, karena ketika mahasiswa/i “kebelet” ingin buang air kecil maupun besar, mereka menjadi kalang kabut mencari air. Apalagi bagi mereka yang berada di lantai 2-6, merekan terpaksa harus turun untuk ke lantai satu, karena air hanya tersedia di lantai satu.
  2.  Disediakannya tisu. Memang bagus pihak kampus menyediakan tisu di toilet, namun apabila tidak menyertakan tempat sampah sama saja bohong. Tisu berserakan di mana-mana.

 

b. Fungsi toilet kampus

Fungsi toilet kampus biasanya saya gunakan untuk buang air kecil. Awalnya saya tidak mau buang air kecil di tempat umum (kampus), karena saya termasuk orang yang “              merasa jijik”, namun karena tidak bisa menahan “pipis” ketika perkuliahan berlangsung, otomatis saya mau tidak mau harus tetap menggunakan toilet kampus.

Selain untuk mengeluarkan hajat atau kotoran dan biasanya tersedia westafel serta cermin besar di dalamnya. Fungsi toilet kampus pun menjadi lain, seperti:

–          Toilet Sebagai Tempat Berkeluh Kesah

Sebagai salah satu tempat umum, tentu toilet akan mempertemukan banyak orang didalamnya meski dalam kapasitas beberapa orang saja. Namun sering kali toilet justru dijadikan sebagai tempat berkeluh kesah mengenai perkuliahan yang dijalani mahasiswa. Tak sekedar keluhan kuliah, dosen yang menyebalkan, maupun teman sesama kampus yang mengesalkan. Berbagai warna cerita timbul ketika salah satu individu yang berkumpul mulai mengangkat satu topik ke topik yang lain.

 

–          Toilet Sebagai Tempat Melepas Penat

Bila diperhatikan, tak sedikit mahasiswi yang justru menggunakan toilet sebagai tempat pelarian untuk melepas penat dari proses perkuliahan yang mengikat. Ketika perasaan itu menghampiri, mereka tak segan meninggalkan kuliah mereka untuk sementara dan kemudian lari menuju toilet dengan tak lupa membawa seperangkat alat make up. Para wanita percaya, bahwa mencuci muka atau sekedar merapikan riasan wajah dapat menghilangkan perasaan penat dan mengurangi tingkat stress yang timbul akibat perkuliahan.

 

–          Toilet Sebagai Tempat Berkomunikasi

Toilet sebagai tempat berkomunikasi? Mengapa tidak? Salah satu di antara kita mungkin juga akan lebih memilih toilet sebagai tempat untuk berkomunikasi ketika tiba-tiba Anda menerima panggilan di handphone saat sedang bekerja.

 

–          Toilet juga Sebagai Tempat Mendapatkan Solusi

Ya, dari permasalahan yang ada atau sekedar keluh kesah yang dikeluarkan selama berada di dalam toilet juga dapat menjadi tempat di temukannya solusi yang selama ini justru dicari-cari. Karena pengalaman yang sama-sama dimiliki oleh teman-teman kampus lainnya yang terungkap dalam toilet.

Meskipun demikian, tetaplah mempergunakan toilet sebagaimana fungsinya. Tentunya kenyamanan adalah hak setiap orang, jadi akan sangat mengganggu bila perkumpulan yang terjadi di toilet umum justru membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan keberadaan kita.

 

 

 

c. Perilaku kebiasaan di toilet kampus

Selain untuk buang air kecil, biasanya saya di toilet kampus untuk memperbaiki kerudung saya, sebab di toilet kampus disediakan cermin yang cukup besar.

d. Penyebab perbuatan saya

Mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial ini sangat berpengaruh terhadap perilaku saya sehari-hari. Biasanya saya sedikit cuek untuk lingkungan sekitar dan lebih mementingkan diri saya sendiri, namun dengan adanya mata kuliah ini, sangat membantu saya melakukan perubahan sedikit demi sedikit untuk lebih memerhatikan lingkungan di sekitar saya. Misalnya, ketika saya ke toilet pada waktu siang hari dan lampu toilet tersebut nyala, saya selalu mematikannya. Dan sampai sekarang hal tersebut sudah menjadi kebiasaan saya ketika pergi ke toilet siang hari dalam keadaan lampu nyala. Kemudian ketika saya melihat tisu berserakan dimana-mana di toilet, memang tidak ada tempat sampah di toilet tersebut (karena tidak disediakan oleh pihak kampus). Namun karena saya merasa malu, karena saya mahasiswi Pendidikan IPS yang sudah menjalani mata kuliah Pengembangan Keterampilan IPS, saya pun dengan teman-teman selalu memunguti tisu tersebut dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di lorong kampus (di luar toilet).

Saya sangat berharap, dimulai dengan rasa malu inilah menjadikan saya menjadi seseorang yang lebih bertanggung jawab lagi dengan lingkungan sekitar karena saya sudah memiliki ilmunya dan wajib saya implementasikan dan saya amalkan kepada orang lain. Saya pun harus bisa beradaptasi dengan semua perubahan yang terjadi dengan pemahaman yang tinggi akan masalah sosial tersebut. Semoga bermanfaat mengikuti mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial. Dan saya pun berterima kasih kepada dosen mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial, yang tiada henti selalu mengingatkan kami betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

  1. a. New Life Style masyarakat modern dalam hal mandi

Jika dulu kamar mandi hanya dianggap sebagai pelengkap dalam sebuah rumah, kini dengan makin meningkatnya kualitas hidup masyarakat modern, maka kamar mandi sudah menjadi sebuah gaya hidup dengan desain yang makin bagus.

Fenomena itulah yang mendasari baik para produsen kamar mandi hingga arsitek maupun interior desainer untuk melengkapi desain kamar mandi dan furniturnya. Karena kini kamar mandi tidak hanya tempat untuk membersihkan diri, tapi juga dapat sebagai tempat memanjakan tubuh dan pikiran melalui relaksasi.

Guna menjawab kebutuhan tersebut, tren bentuk kamar mandi pun bergeser ke arah modern dengan menggunakan elemen kaca. “Desain kamar mandi saat ini sudah mengalami pergeseran. Perkembangan segala sesuatu yang berbau modern, membuat kamar mandi mengikuti bentuknya yang modern pula. Hal itulah yang mendasari tren kamar mandi kini berubah menjadi transparan memakai elemen kaca,” kata S. Farida Alaydroes, Ketua Umum Himpunan Desainer Indonesia (HDII) ketika dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Minggu (30/3/2008).

Menurutnya, desain kamar mandi transparan yang saat ini sudah banyak digunakan bukan tidak mungkin menuai masalah, terutama di Indonesia. “Karena orang Indonesia masih menganut budaya timur yang privasinya tinggi dibandingkan dengan orang asing, maka desain kamar mandi transparan tidak bisa diaplikasikan oleh semua orang. Budaya Indonesia masih banyak menganut bahwa kamar mandi harus tertutup,” papar owner PT In Desain Interspace Estetika itu.

New Life Style masyarakat modern dalam hal mandi tidak hanya ruangan kamar mandinya yang modern, tetapi biasanya mereka pergi ke jacuzzi, sauna, dan tempat-tempat umum yang menyediakan fasilitas mandi yang berbau modern.

Tempat umum inilah yang menjadikan masyarakat modern memanfaatkannya untuk mendukung pekerjaan dan kehidupan politik mereka. Biasanya mereka menggunakan tempat itu untuk mendiskusikan bisnis yang mereka jalankan dan pembicaraan-pembicaraan politik yang mereka hadapi. Sehingga fungsi sosial di sini berlangsung, karena adanya komunikasi antar dua individu atau lebih.

 

b. Perkembangan wc, toilet, atau kamar mandi dari zaman ke zaman

Dari semenjak manusia ada, kebutuhan untuk toilet sudah ada. Mari lihat perkembangan bentuk-bentuk toilet dari masa ke masa, dari masa jaman dulu sampai masa jaman edan dan jaman obsesi.

a. Masa kuno dulu

Toilet dimasa ini masih hanya berbentuk bangunan temporar dan terkesan seadanya dimana hanya untuk memenuhi kebutuhan, masih belum dijadikan sebagai hiasan atau dekorasi.

b. Masa modern

Toilet dimasa ini bertambah fungsinya dari yang hanya untuk mencukupi kebutuhan buang air, sekarang sudah dijadikan alat untuk dekorasi ruangan atau hiasan. Sehingga muncul lah toilet-toilet bagus/cantik.

c. Masa edan

Toilet di masa edan ini sudah kelihatan adanya keanehan dari fungsi toilet itu sendiri. Dari hanya untuk mencukupi kebutuhan, untuk dekorasi. Pada masa edan ini, toilet sudah mulai dijadikan bahan lelucon. Maka muncullah bentuk toilet dan gambar-gambar lelucon sekitar toilet tersebut. Atau bahkan toilet di masa edan ini sudah bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk hewan.

d. Masa terobsesi

Toilet di masa ini fungsinya sudah berubah dari yang untuk mencukupi kebutuhan, untuk dekorasi, dsb. Di masa ini toilet boleh dibilang bisa mencukupi kebutuhan bagi orang-orang yang terobsesi baik terobsesi kerja maupun obsesi barang-barang berbau porno. Bahkan toilet sudah bisa dibawa ke mana-mana.

  1. Keterampilan sosial yang terkait dengan life styledalam hal menggunakan toilet
    1. Membaca simbol

Keterampilan membaca simbol dalam toilet biasanya terletak di bagian pintu, apakah itu toilet perempuan atau laki-laki. Terkadang masih saja orang salah masuk toilet, entah karena terburu-buru atau memang tidak bisa membaca simbol. Simbol hendaknya bersifat fleksibel sehingga orang awam pun mampu membaca simbol tersebut.

  1. Berkomunikasi

Tentu saja komuniksi akan berjalan jika kita berada di toilet umum, misal toilet kampus. Dengan teman kelas kita berbincang-bincang, baik itu membicarakan masalah kampus maupun masalah pribadi. Hal ini menunjukkan adanya interaksi antar individu ketika berada di toilet.

  1. Memimpin

Memimpin disini maksudnya, ketika kita dihadapkan pada keadaan orang-orang mengantri untuk masuk toilet, namun ada yang orang masuk begitu saja tanpa mengantri dengan alasan “kebelet” atau dia lebih tua dari yang mengantri. Di sinilah peran kita untuk memimpin hal tersebut. Keterampilan sosial kita harus digunakan dengan mengambil kebijakan siapa yang pantas untuk terlebih dahulu masuk toilet.

  1. Memecahkan masalah

Ini adalah kelanjutan dari sikap memimpin diatas, apabila kita mampu memimpin dengan baik maka kita sudah memecahkan masalah di ada di hadapan kita tersebut.

  1. Sikap demokratis

Mana yang harus kita dahulukan. Ketika ada orang orangtua yang mengantri di depan toilet, apakah sikap kita mendahulukan orang tua tersebut atau menghiraukannya saja, karena kita sama-sama dalam kondisi ingin menggunakan toilet, baik itu untuk buang air kecil atau besar. Kalau saya dihadapkan seperti masalah diatas, ada dua alternatif pilihan yang akan saya lakukan. Jika kondisi saya sedang kebelet, dan saya lebih dulu mengantri dibanding dengan orangtua tersebut, saya akan memilih untuk masuk toilet dan meminta maaf terlebih dahulu kepada orangtua tersebut karena saya sudah kebelet. Dan jika kondisi saya masih bisa untuk menahan buang air (kecil/besar), dan saya pun lebih dulu mengantri di banding  dengan orangtua tersebut. Saya akan mendahulukan orangtua tersebut, karena di satu sisi lebih mengahargai orang yang lebih tua dan di satu sisi saya masih bisa manahan buang air (kecil/besar).

  1. Peduli sosial

Keterampilan sosial kita harus digunakan dengan mengambil kebijakan siapa yang pantas untuk terlebih dahulu masuk toilet, misalnya dalam kondisi ada antrian panjang untuk masuk toilet, namun ada orang yang lebih tua yang ingin masuk toilet terlebih dahulu. Sikap kita harus bisa menentukan mana yang harus di dahulukan, apakah mendahulukan orang yang lebih tua? Atau mendahulukan orang yang sudah mengantri? Disinilah kepedulian sosial kita sangat dibutuhkan.

  1. Peduli lingkungan

Lingkungan harus tetap kita jaga dimana pun kita berada. Baik itu kamar mandi sendiri maupun di toilet umum. Ketika kita dihadapkan pada kondisi lingkungan yang tidak baik, misalnya banyak tisu yang berserakan di toilet. Apa yang akan kita lakukan? Tentu saja memungut tisu tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.

Kita harus peduli terhadap lingkungan walaupun tindakan yang kita lakukan mungkin bagi sebagian orang tidak pantas tetapi jika tidak diri kita sendiri, mau siapa lagi??

 

“Mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, dan mulailah HARI INI!”

DAFTAR PUSTAKA

 

http://andriksugianto.com/gengsi-atau-fungsi.html

http://www.kulinet.com/baca/fungsi-lain-dari-sebuah-toilet/850/

http://id.88db.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail.page?kid=735

 

 

 

RANGKUMAN SISTEM PROYEKSI PETA

Standar

BAB III

PROYEKSI PETA

3.1 Pendahuluan

Proyeksi peta adalah suatu sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di bumi dan di peta. Karena permukaan bumi secara fisik tidak teratur, sehingga sulit untuk melakukan perhitungan-perhitungan dari hasil ukuran (pengukuran). Untuk itu dipilih suatu bidang yang teratur yang mendekati bidang fisis bumi yaitu bidang Elipsoida dengan besaran-besaran tertentu.

Peta merupakan gambaran permukaan bumi pada bidang datar dalam ukuran yang lebih kecil, dimana posisi titik-titik pada peta ditentukan terhadap system siku-siku X dan Y, sedang posisi titik-titik pada muka bumi ditentukan oleh bujur dan lintang.

Di dalam konstruksi suatu proyeksi peta, bumi biasanya digambarkan sebagai bola (dengan jari-jari R = 6370,283 km) dimana volume elipsoida sama dengan volume bola. Bidang bola inilah yang nantinya akan diambil sebagai bentuk matematis dari permukaan bumi. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam perhitungan.

Untuk daerah yang kecil (maksimum 30 km x 30 km) dapat dianggap sebagai daerah yang datar, sehingga pemetaan daerah tersebut dapat langsung digambar dari hasil pengukuran di lapangan, tanpa memakai salah satu system proyeksi peta.

Persoalan pertama dalam proyeksi peta adalah penyajian bidang lengkung ke  bidang datar. Bidang yang lengkung kalau dibentangkan menjadi bidang datar tentu akan mengalami kesalahan (distorsi), sedang suatu peta dikatakan ideal apabila dapat memberikan : luas benar, bentuk benar, arah benar, dan jarak benar. Keempat syarat tersebut jelas tidak akan mungkin dapat dipenuhi, tetapi selalu harus mengorbankan syarat lainnya. Cara yang dapat dilakukan hanyalah mengurangi kesalahan sekecil mungkin untuk memenuhi satu atau lebih syarat-syarat peta ideal, yaitu dengan :

  1. Membagi daerah yang dipetakan menjadi bagian-bagian yang tidak begitu luas;
  2. Memiliki bidang proyeksi yang sesuai dengan letak daerah yang dipetakan, misal :
  1. Bidang datar untuk daerah sekitar kutub.
  2. Bidang kerucut untuk daerah sekitar lintang tengah.
  3. Bidang silinder untuk daerah sekitar equator.

Cara penggambaran dari bentuk lengkung ke bentuk bidang datar dapat dilakukan dengan menggunakan rumus matematis tertentu. Metode proyeksi atau transformasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Proyeksi langsung (direct projection) yaitu dari elipsoida ke bidang proyeksi;
  2. Proyeksi ganda merupakan transformasi dari elipsoida ke bidang bola kemudian dari bidang bola ke bidang proyeksi.

Pemilihan macam proyeksi  tergantung pada :

  1. Bentuk, letak, dan luas daerah yang dipetakan;
  2. Ciri-ciri tertentu/ciri-ciri asli yang akan dipertahankan.

3.2. Macam Proyeksi Peta

Secara garis besar, macam-macam proyksi peta dapat digolongkan atas beberapa sudut pandangan.

  1. Ditinjau dari sifat asli yang akan dipertahankan
    1. Proyeksi equivalent, dimana luas daerah dipertahankan sama artinya luas di atas peta sama dengan luas di atas muka bumi setelah dikalikan skala (luas benar).
    2. Proyeksi conform, dimana sudut-sudut dipertahankan sama (arah benar).
    3. Proyeksi equidistant, dimana jarak dipertahankan sama artinya jarak diatas peta sama dengan jarak di atas muka bumi setelah dikalikan skala (jarak benar).
  2. Ditinjau dari macam bidang proyeksi
    1. Proyeksi Azimuthal/Zenithal, bidang proyeksi adalah bidang datar.
    2. Proyeksi Kerucut, bidang proyeksi adalah kerucut.
    3. Proyeksi Silinder, bidang proyeksi adalah bidang silinder.

Gambar 3.1. Bidang Proyeksi Azimuthal/Zenithal, Kerucut (conic), silinder

  1. Ditinjau dari kedudukan sumbu simetri/garis karakteristik bidang proyeksi
    1. Proyeksi normal, sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi.
    2. Proyeksi miring, sumbu simetri membentuk sudut dengan sumbu bumi.
    3. Proyeksi transversal, sumbu simetri tegak lurus sumbu bumi atau terletak pada bidang equator (disebit juga proyeksi equatorial).

Gambar 3.2. Proyeksi Silinder Normal, Transversal, dan Miring (Oblique)

 

3.3 Meridian dan Parallel (Bujur dan Lintang)

Meridian adalah garis-garis yang menghubungkan antara kutub utara dan kutub selatan dimana garis-garis tersebut berupa setengah lingkaran-lingkaran yang sama besarnya.

Parallel adalah garis yang sejajar denga equator dimana garis-garis tersebut berupa lingkaran-lingkaran yang tidak sama besarnya, makin jauh dari equator lingkarannya makin kecil. Jadi lingkaran yang terbesar adala equator

Gambar 3.3. Meridian dan Parallel

Karakteristik daripada meridian, yaitu :

  1. Semua meridian ditarik dengan arah utara-selatan yang benar.
  2. Jarak antar meridian akan menjauh di equator dan akan berkumpul jadi satu titik di kutub utara dan selatan.
  3. Jumlah yang tidak terhingga daripada meridian bisa digambar pada suatu globe (muka bumi). Tetapi untuk penyajiannya di peta meridian di gambar setiap 100.

Karakteristik daripada parallel, yaitu :

  1. Masing-masing parallel selalu sejajar satu sama lain.
  2. Parallel selalu kea rah timur-barat.
  3. Parallel berpotongan dengan meridian dengan sudut 900 .

Hal ini berlaku pada setiap tempat di globe ( muka bumi) kecuali kedua kutub.

  1. Semua parallel kecuali equator adalah lingkaran kecil, equator merupakan suatu lingkaran besar.
  2. Jumlah yang tidak terhingga daripada parallel dapat digambar pada kutub. Jadi setiap titik pada bola bumi akan terletak pada suatu parallel kecuali pada kedua kutub.

3.4.            Besarnya Bujur (Longitude)

Besarnya bujur suatu tempat (titik) adalah busur yang diukur (dalam derajat) pada suatu parallel antara meridian tempat tersebut dengan meridian utama (meridian greenwich). Meridian Greenwich mempunyai harga bujur 00 (nol derajat). Bujur dari suatu titik tertentu pada bola bumi diukur ke timur atau ke barat dari meridian Greenwich. Harga bujur berkisar dari 00 sampai 1800 ke Timur atau ke Barat.

Apabila suatu titik hanya diketahui besarnya bujur saja, kita tidak dapat mengetahui lokasi secara teliti karena dengan bujur yang sama dapat terletak pada suatu meridian penuh. Dengan perkataan lain suatu meridian dapat didefinisikan sebagai suatu garis yang menjadi tempat kedudukan semua titik-titik yang mempunyai longitude yang sama. Panjang bujr setiap 10 dalam miles/kilometer tidak tetap, tergantung dari letak parallel. Jarak yang paling besar adalah di equator karena merupakan lingkaran besar. Panjang 10 bujur di equator = 111,322 km, makin kea rah kutub menjadi bertsmbsh kecil hingga mendekati nilai 0 km (di kutub).

3.5 Besarnya Lintang (Latitude)

Besarnya lintang suatu tempat didefinisikan sebagai busur yang diukur (dalam derajat) pada suatu meridian antara tempat tersebut dengan equator. Besarnya lintang mempunyai harga dari 00 (equator) sampai 900 di kutub utara dan kutub selatan. Apabila suatu tempat (titik) diketahui lintang dan bujur berarti lokasi dapat ditentukan dengan teliti yang merupakan koordinat geografis.

Dengan demikian lokasi suatu titik ditentukan berdasarkan pada besarnya bujur (longitude) dan besarnya lintang (latitude) tempat itu. Contoh pada gambar di bawah ini lokasi titik P adalah 600 Bujur Barat (600 E) dan 500 Lintang Utara (500 N). Gunakan globe untuk menjelaskan pada siswa.

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.4. Longitude dan Latitude

Proyeksi Azimuthal

Proyeksi peta yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksi disebut proyeksi azimuthal atau proyeksi zenithal. Pada proyeksi ini bola bumi menyinggung bidang proyeksi pada salah satu kutub (kutub utara atau kutub selatan) disebut Proyeksi Azimuthal normal, sedang apabila menyinggung pada salah satu titik equator disebut proyeksi Azimuthal Equatorial atau menyinggung di salah satu titik di sembarang tempat pada bola bumi, disebut proyeksi azimuthal miring (oblique). Beberapa contoh lihat pada gambar berikut :

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.5. Contoh Proyeksi Azimuthal Normal

 

3.7. Proyeksi Kerucut

Bila kita meletakkan suatu kerucut pada bola bumi, kerucut tersebut akan menyinggung bola bumi sepanjang suatu lingkaran apabila kerucut tersebut dalam posisi normal maka garis singgung dalam bidang kerucut dengan bola bumi adalah disuatu parallel dan parallel ini disebut parallel standart. Dimana pada parallel standar tidak mengalami distorsi (penyimpanan) berarti faktor skala (scale factor) = 1

 

Faktor skala = k = Jarak di peta

                              Jarak di bumi

Kedudukan sumbu kerucut terhadap sumbu bola bumi dapat normal, miring, dan transversal.

Apabila kerucut menyinggung bola bumi disebut tangent (tangential) terhadap bola bumi, berarti hanya ada satu parallel standart.

Bila kerucut memotong bola bumi disebut secant terhadap bola bumi, berarti ada 2 (dua) arallel standart. Adanya dua parallel standart berguna untuk memperkecil distorsi. Karena bila daerah yang akan dipetakan membentang utara selatan, kalau memakai proyeksi kerucut dengan satu standart parallel akan menimbulkan distorsi yang besar untuk daerah yang jauh dari parallel standart.

Contoh-contoh proyeksi kerucut yang sederhana dapat dilihat pada gambar berikut :

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.6. Proyeksi kerucut dengan satu standar parallel

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.7. Proyeksi kerucut dengan dua standar parallel

3.8. Proyeksi Silinder

Proyeksi silinder yang sebenarnya, menggunakan bidang silinder sebagai bidang proyeksinya. Kenampakan yang ada pada bola bumi (globe) diproyeksikan ke bidang silinder tersebut, kemudian bidang silinder dipotong dan dibuka menjadi bidang datar.

Sifat proyeksi silinder yang normal adalah lingkaran-lingkaran meridian diproyeksikan menjadi garis-garis lurus vertical yang sejajar (meridian-meridian). Lingkaran-lingkaran parallel diproyeksikan menjadi garis-garis lurus yang sejajar dan tegak lurus dengan meridian-meridian.

Pada proyeksi silinder normal artinya sumbu bumi berimpit dengan sumbu silinder, dan menyinggung equator. Dapat juga proyeksi silinder normal, bidang proyeksi memotong bola bumi pada suatu parallel. Lihat beberapa contoh gambar berikut :

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.8. Proyeksi Silinder Normal yang memotong Bola Bumi

 

Gambar 3.9. Proyeksi Silinder Normal yang menyinggung Bola Bumi

3.8.1. Proyeksi Mercator

Merupakan proyeksi silinder normal conform, dimana seluruh muka bumi dilukiskan pada bidang silinder yang sumbunya berimpit dengan bola bumi. Kemudian silindernya “dibuka” menjadi bidang datar.

Gambar 3.10. Proyeksi Mercator

Proyeksi ini mempunyai sifat khusus sebagai berikut :

  1. Equator diproyeksikan equidistance.
  2. Proyeksinya adalah conform.
  3. Hasil proyeksinya adalah baik/betul untuk daerah dekat equator tetapi distorsi makin membesar bila makin dekat dengan kutub.
  4. Interval jarak antara meridian adalah sama, dan pada equator, pembagian vertical ini adalah benar menurut skala (equdistance).
  5. Interval jarak antara parallel tidak sama, makin menjauh dari equator interval jarak makin besar.
  6. Kutub-kutub tidak dapat digambarkan karena terletak di tak terhingga.

3.8.2. Proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM)

Proyeksi UTM mempunyai spesifikasi sebagai berikut :

  1. Bidang silinder akan memotong bola bumi di dua buah meridian, yang disebut meridian standart dengan faktor skala (k) = 1.
  2. Lebar zone (wilayah) sebesar 60, dengan demikian bumi dibagi dalam 60 zone.
  3. Tiap zone mempunyai meridian tengah sendiri.
  4. Perbesaran di meridian tengah = 0,9996
  5. Perbesaran di meridian tepi = 1,001

Zone nomor 1, dimulai dari daerah yang dibatasi oleh meridian 1800 BT dan 1740 BT dilanjutkan kea rah timur samai nomor 60.

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.11. Pembagian Dunia menjadi zona-zona

Batas parallel tepi atas dan tepi bawah adalah 840 Lintang Utara dan 800 Lintang Selatan. Dengan demikian untuk daerah kutub harus diproyeksikan dengan proyeksi lain (rekomendasi : Universal Polar Stereograhic Projection). Telah diyraikan di depan bahwa silinder memotong (secant) bola bumi. Hal ini dilakukan agar dapat meredusir distorsi sekecil mungkin dengan lebar zone (wilayah) 60.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.12. Bidang Silinder

Memotong globe                                Gambar 3.13. Bagian yang tidak     dan mengalami distorsi tiap zone

Pada gambar tersebut di atas, equator tergambar sebagai garis lurus dan meridian-meridian tergambar sedikit melengkung. Karena proyeksinya bersifat conform, maka parallel-parallel juga tergambar sedikit melengkung agar perpotongan dengan meridian tegak lurus.

Pada titik I, II, III, dan IV Gambar 3.10, dimana silinder memotong bola bumi, tidak mengalami distorsi. Pada gambar terlihat bahwa selain equator sebagai garis lurus juga ada garis tegak lurus disebut meridian tengah dari tiap-tiap zone yang tergambar melalui V dan VI pada gambar tersebut. Kedua garis tersebut dipakai sebagai sumbu dari system grid untuk setiap zone.

Seperti terlihat pada gambar diatas system grid terdiri dari garis lurus yang sejajar meridian tengah. Lingkaran silinder yang memotong bola bumi digambar sebagai garis lurus/putus-putus yang tebal. Kembali ke gambar 3.10. terlihat bahwa I, V, II, dan II, VI, IV adalah diperkecil bila diproyeksikan pada silinder, sedang daerah IA, IIB, IIIC, dan IVD diperbesar. Tidak terdapat distorsi sepanjang lingkaran yang melewati I, II, III, dan V, ini ditunjukkan sevagai garis putus tebal pada Gambar 3.9.

 

3.8.3. Sistem Koordinat

Untuk menghindari koordinat negative didalam proyeksi UTM setiap meridian tengah didalam setiap zone diberi harga 500.000 m East (Timur). Untuk harga-harga kea rah utara, equator dipakai sebagai garis datum dan diberi harga 0 m North (Utara). Untuk perhitungan kea rah Selatan equator diberi harga 10.000.000 m North.

Pada grafik dapat terlihat bahwa antara meridian tengah (500.000 m E) dengan garis grid 320.000 m E (sebelah barat meridian tengah) dan 680.000 m E (timur meridian tengah) terjadi reduksi skala. Faktor skala pada daerah ini mempunyai harga dari 0,99960 sampai 1,00000. Di luar dari batas garis grid 320.000 m E dan 680.000 m E faktor skala lebih besar daripada 1,00000. Berarti jarak-jarak pada peta tergambar lebih besar daripada di permukaan bumi (tidak memperhatikan skala peta). Dalam hal ini meridian tengah 1000 m dibumi akan tergambar 0,99960 x 1000 m = 999,60. Berarti ada reduksi pada peta sebesar 40 cm per 1000 m untuk daerah dekat dengan tepi zone, sekitar 300.000 m sebelah barat atau timur meridian tengah untuk jarak 1000 m akan tergambar 1000,70 m. berarti mengalami perbesaran distorsi 70 cm per 1000 m.

3.8.4. Kebaikan daripada proyeksi UTM

a. Proyeksinya simetris untuk setiap wilayah zone dengan lebar bujur 60.

b. Transformasi koordinat dari zone ke zone dapat dikerjakan dengan rumus yang sama untuk setiap zone di seluruh dunia.

c. Distorsinya antara = 40 cm/1000 m dan 70 cm/1000 m.

Setiap zone (wilayah) pada UTM mempunyai overlap sekitar 40 km (25 mile, jadi setiap titik yang berada di daerah overlap akan mempunyai 2 harga koordinat. Setiap jalur sebesar 80 LS – 720 LS diberi huruf C dan berakhir dengan huruf X pada jalur 720 LU dan 840 LU (huruf I dan 0 tidak digunakan)).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.14. Sistem Koordinat UTM

Dalam penerapan system UTM bagi peta-peta dasar nasional seluruh wilayah Indonesia (BAKOSURTANAL) membagi wilayah Indonesia dalam 9 wilayah (zone) yang masing-masing mempunyai lebar 60 bujur, mulai dari meridian 900 bujur timur sampai dengan meridian 1440 bujur timur dengan batas garis parallel 100 lintang utara dan 150 lintang selatan dengan 4 satuan daerah yaitu L, M, N, dan P. sebagai bidang referensi digunakan Spheroid GRS 1967 (Geodetic Reference System 1967) dengan dimensi :

Radius equator (a) = 666378160 m

Penggepengan (f) = 1 : 298, 25 

 

 

KORUPSI

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Korupsi di Indonesia sudah merupakan virus flu yang menyebar diseluruh tubuh pemerintahan sehingga sejak tahun 1960-an langkah –langkah pemberantasannya pun masih terendat-sendat sampai masa kini, korupsi masih berkaitan dengan kekuasaaan karena dengan kekuasaan itupenguasa apat menyalahgunakan kekuasaannya, untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kroni, ditegaskanlah kemudian bahwa korupsi selalu bermula dan berkembang disektor publik dengan bukti-bukti nyata bahwa dengan kekuasaan itulah pejabat publik dapat menekan atau memeras para pencari keadilan atau mereka yang memerlukan jasa pelayanan dari pemerintah.

     Perkembangan korupsi sampai saat ini pun sudah merupakan akibat dari sistem penyelenggaraan pemerintah yang tidak tertata secara tertib dan tidak terawasi secara baik karena landasan hukum yang dipergunakan juga mengandung banyak kelemahan – kelemahan dalam implementasinya. Korupsi disektor swasta pun saat ini sudah sama parahnya dengan korupsi disektor publik manakala dalam aktifitas bisnisnya terkait atau harus berhubunga dengan sektor publik.

Bertitik tolak dari uraian diatas jelas bahwa pemberantasan korupsi bukanlah perkara yang mudah dan segera dapat diatasi karena sistem penyelenggaraan pemerintah yang mentabukan transparansi dan mengedepankan kerahasiaan dan ketertutupan; dengan menitiskan akuntabilitas publik dan mengedepankan pertanggungjawaban virtikal yang dilandaskan pada primodialismi ; yang menggunakan sistem rekuitmen, mutasi dan promosi.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa definisi korupsi ?
  3. Apa penyebab terjadinya korupsi ?
  4. Apa dampak yang ditimbulkan korupsi ?
  5. Bagaimana cara memberantas korupsi ?
  6. Bagaimana pandangan tipikor tentang korupsi ?

 

 

  1. Tujuan
  2. Untuk mengetahui definisi korupsi
  3. Untuk mengetahui penyebab terjadinya korupsi
  4. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan korupsi
  5. Untuk mengetahui bagaimana cara memberantas korupsi
  6. Untuk mengetahui pandangan tipikor tentang korupsi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. Definisi Korupsi

Apa itu korupsi?dari berbagai segi dan pandangan korupsi memiliki banyak arti,namun maksud dan arti dari setiap pandangan tersebut bermakna sama, bermakna negative. Berikut beberapa definisi korupsi.

  • Menurut asal kata, korupsi berasal dari bahasa latin, corruptio, kata ini memiliki kata kerja corrumpere, yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, tau menyogok.
  • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Korup berarti busuk; palsu; dan suap.
  • Menurut Kamus Hukum 2002, Korupsi berarti menyelewengkan uang/barang milik perusahaan atau Negara; menerima uang dengan mnggunakan kabatannya untuk kepentingan pribadi.
  • S.H. Alatas, seorang guru besar ilmu kajian melayu, ia mendefinisikan korupsi sebagai penyalahgunaan kepercayaan untuk kepentingan pribadi.
  • Robert C. Brooks, mengemukakan rumusan korupsi sebagai “dengan sengaja melakukan kesalahan atau melalaikan tugas yang diketahui sebagai kewajiban, atau tanpa hak menggunakan kekuasaan, dengan tujuan memperoleh keuntungan yang sedikit banyak bersifat pribadi. ”
  • Berdasarkan pemahaman pasal 2 UU no. 31 th. 1999 sebagaimana diubah dengan UU no. 20 th 2001, korupsi adalah perbuatan secara melawan hukum dengan maksud memperkaya diri/orang lain (perseorangan atau korporasi) yang dapat merugikan keuangan/perekonomian negara.

Bila kita menelaah lebih lanjut pemahaman korupsi dari UU diatas, terdapat 30 jenis tindakan yang bisa diketegorikan tindakan korupsi di Indonesia. Intinya korupsi merupakan kegiatan disengaja yang menyalahgunakan suatu kepercayaan untuk kepentingan pribadi atau golongan, dan tentunya akan sangat merugikan banyak pihak, dari rakyat hingga Negara.

 

 

  1. Ciri-ciri dan jenis korupsi

Terdapat lebih dari 30 pasal dalam UU no. 31 th.1999 yang menjelaskan ciri-ciri dan jenis korupsi di Indonesia. Demikian pula dari sudut pandang universal, ciri dan jenis korupsi tidak berbeda jauh.

 S.H. Alatas dalam bukunya yg berjudul The Sociology of Corruption meringkas ciri-ciri korupsi sebagai berikut.

a)    Suatu penghianatan terhadap kepercayaan

b)   Penipuan terhadap badan pemerintah, lembaga swasta, atau masyarakat umumnya

c)    Dengan sengaja melalaikan kepentingan umum untuk kepentingan khusus

d)   Dilakukan dengan rahasia

e)    Melibatkan lebih dari satu pihak

f)    Adanya kewajiban dan keuntungan bersama, dalam bentuk uang atau yang lain

g)   Adanya usaha untuk menutupi perbuatan korup dalam bentuk-bentuk pengesahan hukum

h)   Menunjukkan fungsi ganda yang kontradiktif pada mereka yang melakukan korupsi

Ciri-ciri diatas dapat diperluas lagi, namun paling tidak sebuah tindakan korupsi memiliki semua ciri-ciri diatas. Sedangkan untuk jenis korupsi, Alatas mengkonsepkan … jenis korupsi dalam segi tipologi.

  1. Korupsi Transaktif, menunjuk kepada adanya kesepakatan timbal-balik antara pihak pemberi dan pihak penerima demi keuntungan keduabelah pihak dan dengan aktif diusahakan tercapainya keuntungan ini oleh kedua-duanya.
  2. Korupsi pemerasan, adalah jenis korupsi dimana pihak pemberi dipaksa untuk menyuap guna mencegah kerugian yang sedang mengancam dirinya, kepentingannya, atau orang-orang, dan hal-hal yang dihargainya.
  3. korupsi defensif, adalah perilaku korban korupsi pemerasan. Korupsi dalam rangka mempertahankan diri.
  4. Korupsi investif atau gratifikasi, adalah pemberian barang atau jasa tanpa ada pertalian langsung dengan keuntungan tertentu, selain keuntungan yang dibayangkan akan diperoleh dimasa yang akan datang.
  5. Korupsi kekerabatan atau nepotisme, adalah penunjukan yang tidak sah terhadap teman atau sanak saudara untuk memegang jabatan dalam pemerintahan atau system organisasi, atau tindakan yang memberikan perlakuan yang mengutamakan, dalam bentuk uang atau bentuk-bentuk lain, kepada mereka, secara bertentangan dengan norma atau peraturan yang berlaku.
  6. Korupsi otogenik, yaitu  korupsi yang dilakukan seorang diri dengan memanfaatkan prilaku serta peran yang dimilikinya dan nantinya memperoleh keuntungan finansial.
  7. Korupsi dukungan, yaitu tindakan korupsi untuk melindungi atau memperkuat korupsi yang sudah ada.

Berdasarkan UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo. UU Nomor 20 Tahun 2001, KPK menjabarkan tindak korupsi menjadi 7 kelompok dan diperinci lagi menjadi 30 jenis tindak korupsi dan Tindak Pidana Lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi berjumlah 6 jenis.

 Ke 7 kelompok tersebut adalah:

1)    Korupsi yang mengakibatkan kerugian negara (ada 2 jenis tindak korupsi)

2)    Korupsi yang berkaitan dengan suap-menyuap (ada 12 jenis tindak korupsi)

3)   Korupsi yang berkaitan dengan penggelapan dalam jabatan (ada 5 jenis tindak korupsi)

4)    Korupsi yang berkaitan dengan pemerasan (ada 3 jenis tindak korupsi)

5)    Korupsi yang berkaitan dengan perbuatan curang (ada 6 jenis tindak korupsi)

6)   Korupsi yang berkaitan dengan benturan kepentingan dalam pengadaan (ada 1 jenis tindak korupsi), dan

7)    Gratifikasi (ada 1 jenis tindak korupsi)

Sedangkan menurut Benveiste dalam bukunya Bureaucracy (1991), membagi korupsi dalam 4 jenis,

a)    Discretionary corruption

b)    Illegal corruption

c)    Mercenary corruption

d)   Ideological corruption

Piers Beirne dan James Messerschmidt dalam criminology (1995) membagi pula korupsi dalam 4 jenis, yaitu:

a)    Political Bribery

b)    Political Kickback

c)    Election Fraud

d)   Corrupt Campaign Practice

Abdullah Hehamahua (2005) membedakan korupsi berdasarkan motivasinya sebagai berikut.

a)    Korupsi karena kebutuhan

b)    Korupsi karena adanya peluang

c)    Korupsi karena ingin memperkaya diri

d)   Korupsi karena ingin menjatuhkan pemerintah

e)    Korupsi karena ingin menguasai suatu negara

 

  1. Asal mula dan faktor penyebab korupsi

Sejarah korupsi bermula sejak awal kehidupan manusia bermasyarakat, yaitu semenjak organisasi kemasyarakatan yang rumit muncul. Kemunculan korupsi semakin kuat semenjak diberlakukannya penggunaan mata uang. Catatan kuno mengenai kegiatan korupsi kebanyakan menunjuk pada penyuapan hakim dan pemerasan dalam bentuk pungutan yang tidak perlu kepada rakyat. Pada masa pemerintahan Romawi kuno, korupsi banyak dalam bentuk pungutan pajak dengan nilai yang tidak masuk akal. Kasus Gaius Verres (115-43 SM) adalah salah satunya. Ia meminta bayaran kepada keluarga seseorang yang dihukum mati, agar dapat dimakamkan sebagaimana mestinya. Bila tidak membayar, maka orang tuanya dipaksa untuk menyaksikan jenazah anaknya diumpankan ke binatang buas.

Lain lagi di Cina. Praktik nepotisme-lah lebih sering terjadi. Pada masa pemerintahan Han banyak para pejabat yang menjilat sang kaisar agar mendapat jabatan dan kemewahan, serta melindungi ia dari tuntutan korupsi.

Namun pemahaman istilah korupsi mulai berkembang di barat pasca revolusi perancis, inggris, dan AS ketika runtuhnya feudalisme dan prinsip pemisahan antara keuangan umum/Negara dengan keuangan pribadi mulai ditetapkan. Penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi khususnya dalam soal keuangan dianggap sebagai korupsi.

Terdapat beberapa faktor penyebab korupsi, diantaranya

a)    Penegakan hukum yang tidak konsisten

b)    Penyalahgunaan kekuasaan/wewenang

c)    Kurangnya penerapan kehidupan dan lingkungan yang antikorupsi

d)   Rendahnya pendapatan penyelenggara negara, yang menimbulkan,

e)    Kemiskinanan

f)     Birokrasi yang rumit

g)    “budaya” memberi upeti, imbalan, jasa atau hadiah

h)    Konsekuensi bila ditangkap lebih rendah daripada keuntungan korupsi tsb

i)      Gagalnya pendidikan agama dan etika

 

  1. Dampak

Tidak akan pernah ada dampak positif dari korupsi, walaupun ada, hanya sebatas sebagai bahan evaluasi untuk program pemberantasan korupsi. Berikut adalah beberapa dampak negatif dari korupsi.

a)    Memperlebar jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin

b)    Negara mengalami kerugian finansial

c)    Ketika suatu perkara korupsi tidak mendapat hukuman yang sesuai,dapat mendorong munculnya tindakan korupsi yang lain

d)   Perspektif masyarakat terhadap badan penegak hukum seperti kepolisian menjadi buruk, yang memicu suasana tidak aman

e)    Rakyat akan apatis terhadap pemerintah karena sudah tidak percaya lagi akan omongan pemerintah, yang dapat menyebabkan kegagalan pemilu

f)    Bila kegiatan korupsi dibiarkan terus menerus, dapat memicu perlawanan rakyat yang bisa menumbulkan kerusuhan dan mengacaukan keadaan negara, yang membuat para investor asing enggan menanamkan modalnya di Indonesia

 

  1. Cara Pemberantasan Korupsi

Memberantas korupsi bukanlah pekerjaan membabat rumput karena memberantas korupsi adalah layaknya mencegah dan menumpas virus suatu penyakit, yaitu penyakit masyarakat. Diperlukan diagnosa dan kesimpulan serta treatment yang tepat agar virus tersebut bukan hanya dapat dicegah akan tetapi di kemudian hari tidak akan terjadi lagi.

Yang seharusnya dicari dan ditemukan dalam memberantas korupsi bukanlah hanya simpati dan dukungan akan tetapi juga empati yang membangunkan perasaan tidak adil dalam masyarakat jika virus penyakit tersebut terus dibiarkan.

Empati dapat ditumbuhkan sejak masa kanak-kanak sampai dengan dewasa melalui kurikulum berbagai jenjang pendidikan. Bahkan menumbuhkan empati akan mengembangkan budaya anti korupsi di mana tidak ada rasa iba terhadap mereka yang memiliki virus penyakit tersebut melainkan justru harus menumpaskannya untuk mengembalikan orang tersebut ebas dari virusnya. Sehingga pintu maaf dan rasa salah harus dilahirkan dalam masa pengasingan yang bersangkutan dari masyarakat melalui hukuman yang setimpal dengan perbuatan dan akibatnya terhadap masyarakat, bangsa, dan negara.

Langkah pencegahan harus mentransmisikan nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan, kepada anak-anaknya dan istrinya termasuk dalam hal penghasilan atau pengelolaan keuangan. Selain itu gerakan menabung dan menghemat perlu juga ditanamkan dalam lingkungan keluarga.

Keteladanan dari pimpinan kantor juga sangat menentukan tumbuhnya kesadaran akan nilai-nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan. Tanpa keteladanan tersebut jangan harap bahwa iklim kerja di kantor akan menyenangkan dan menggembirakan di kalangan para pegawainya bahkan akan tumbuh kecemburuan sosial dan bahkan kesenjangan sosial dn melunturnya rasa kebersamaan dan rasa memiliki kantor tersebut sehingga rasa tanggung jawab dan disiplin akan menurun drastis.

Dari uraian tersebut jelas bahwa memberantas korupsi haruslah dimulai dari diri sendiri bukan dari “penderitaan” oranglain atau “aib” orang lain. Lagipula cara seperti itu tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianut juga bertentangan dengan nilai ketimuran, demikian juga nilai-nilai Barat.

Dalam kaitan inilah kiranya memberantaas KKN haruslah suka atau tidak suka dimulai dengan pemberdayaan masyarakat dan birokrasi untuk tidak mau menyuap atau takut menerima suap dan dilanjutkan dengan penegakan hukum yang konsisten dan tanpa diskriminasi baik atas dasar jabatan, suku, agama, ataupun garis keturunan.

Kita semua tentu sudah merasa geram dan terkadang putus asa dalam memberantas korupsi akan tetapi memberantas korupsi dengan cara mengharapkan tepuk tangan khalayak ramai dan sekedar unjuk muka bahwa memang sudah komitmen untuk sungguh-sungguh memberantas korupsi, akan tetapi hasil akhir yang diharapkan yang seharusnya bermuara di pengadilan dan penjatuhan hukuman tidak pernah terjadi, sehingga terkesan hanya membuang-buang waktu dan bersifat kontra produktif. Terbukti sekalipun dukungan masyarakat luas sudah terjadi terhadap cara-cara sedemikian akan tetapi perkembangan kualitas dan kuantitas korupsi semakin meningkat bukan menyurut. Yang ditahan dan dihukum pun tidak semakin banyak bahkan berbanding lurus dengan yang kelak “diaibkan” atau “dicemarkan” dihadapan masyarakat luas. Kita sepakat bahwa cara seperti itu bukan cara yang tepat baik dari sisi efisiensi dan efektifitas dalam memberantas korupsi  karena kita pun menyadari sepenuhnya bahwa diri kita masing-masing pun masih resisten terhadap pemberantasan korupsi manakala menyentuh beragam kepentingan, baik kepentingan keluarga, golongan, keturunan, maupun kepentingan partainya yang seharusnya segera dibangun dan dilaksanakan untuk memberantas korupsi sekarang adalah menegekkan undang-undang anti korupsi ssuai dengan prosedur hukum acara yang telah ditetapkan tanpa ada pretensi pilihan atau selektifitas sasaran tertentu akan tetapi siapapun juga yang terlibat di tindak tanpa pilih bulu sesuai dengan RUU Komisi Pemberantasan Korupsi yang telah disetujui DPR RI untuk disahkan menjadi Undang-Undang.

 

BAB III

PEMBAHASAN

  1. Profil Lapas Wanita Kelas II A Bandung

Nama UPT                  : LEMBAGA PERMASYARAKATAN WANITA KELAS IIA BANDUNG

Alamat                         : jalan pacuan kuda No.3 Bandung

Nomor Telepon           : 022-7233237

No. Faxmile                 : 022-7233238

Email                           : lapas.wanita@yahoo.co.id

Luas Lahan                  : 9.129,90 m2

Luas Bangunan           : 4.064,60 m2

Kapasitas                     : 325 orang

 

 

  1. Sejarah singkat Lapas Wanita Arcamanik Kelas II A Bandung

Pembangunan lembaga permasyarakatan wanita ini dimulai pada tahun 2003. Lembaga paermasyarakatan wanita kelas II A Bandung berdiri berdasarkan Surat Keputusan Mentri Hukum dan Kak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M.03-PR.07.03 tahun 2007 tanggal 23 Februaru 2007 dan beroperasi pada tanggal 1 Februari 2008 kemudian diresmikan oleh mentri hukum dan hak asasi manusia RI Bapak Patrialis Akbar pada tanggal 17 maret 2010.

  1. Struktural Organisasi Lapas Wanita Bandung

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Kegiatan Pembinaan Perawatan dan Keterampilan Kerja

Kegiatan Unggulan

Kegiatan unggulan yang yang dilaksanakan di Lembaga Permasyarakatan Wanita Klas IIA Bandung, yaitu :

                I.            Kegiatan Pembinaan

  1. Kegiatan Bimbingan Kemasyarakatan

1)    Kegiatan moorning meeting

Kegiatan yang dilakukan oleh warga binaan yang dilakukan pada pagi hari. Biasanya dipimpin oleh KALAPAS.

2)    Kegiatan Pembinaan Pendidikan

Kegiatan belajar mengajar yang diadakan di lapas ini daintaranya :

  • Ø Kejar Paket dan KF
    • Ø Les Gitar, yang dilaksanakan setiap hari kamis bekerjasama dengan BKSPFKK
    • Ø Les Bahasa Inggris, dengan bekerjasama dengan BKSPFKK

3)    Kunjungan Warga Binaan

Warga binaan lapas ini hanya boleh mendapat kunjungan selama 15 menit. Waktu kunjungan yang berlaku di lapas ini pada hari senin s/d kamis dan hari sabtu dari jam 09.00 s/d jam 12.30 WIB. bagi pengunjung, dilarang membawa handphone, uang, benda tajam, diperbolehkan membawa makanan, tapi tidak boleh dalam bentuk botol, kalengan, dan tidak boleh yang menggunakan sedotan. Sebelum berkunjung diharuskan untuk melewati ruang sterilisasi.

4)    Kegiatan Pembinaan Rohani

  1. Warga binaan yang beragama Islam mendapatkan pembinaan rohani diantaranya :
  • Ø Belajar membaca Iqro dan Al-Qur’an yang bekerjasama dengan Yayasan PERSISTRI.
  • Ø Ceramah dan tausyah yaang dilaksanakan oleh Departemen Agama, untuk menambah pengetahuan agama Islam.
  • Ø Bidang pencerahan jiwa dan pengetahuan agama Islam Bekerjasama dengan Mata Air Surga
  1. Warga Binaan yang beragama Kristen mendapatkan pembinaan rohani dimana lapas bekerjasama dengan Badan Kerjasama Pelayanan Firman Kristen Katolik (BKSPFKK).
  2. Warga Binaan yang beragama selain Islam dan Kristen tidak terprogram secara khusus, melainkan beribadah masing-masing sesuai dengan kepercayaannya.

5)    Pelatihan Positif Thinking

Kegiatan ini biasanya dilaksanakan oleh Bapak. Yunus Timoteus menanamkan kepercayaan diri WBP dan membantu WBP supaya berfikir positif apapun yang terjadi.

  1. Kegiatan Perawatan
    1. Kegiatan perawatan dapur.

Kegiatan mengolah bahan makanan untuk seluruh warga binaan pemasyarakatan dilaksanakan setiap hari.

  1. Kegiatan perawatan poliklinik

Warga binaan mendapatkan pelayanan pemeriksaan kesehatan dengan baik sehingga keadaan kesehatan warga binaan lebih terjamin dan terpantau dengan baik.

                     II.     kegiatan Pembinaan Keterampilan Kerja

  1. Lapas bekerjasama dengan LPK Puspa dalam bidang pembinaan keterampilan tata boga.
  2. Lapas bekerjasama dengan BKSPFKK dalam bidang pelatihan salon dan kecantikan.
  3. Lapas bekerjasama dengan DPKLTS dalam bidang pelatihan pengolahan limbah kopi, kain perca dan aplikasi sulam.

 

  1. Hasil Wawancara

Ibu Ella Susanti (38th) merupakan sekertaris di perusahaan Ekspor Impor yang terjerat kasus korupsi yang di vonis selama 4tahun penjara, uang pengganti 259.jt atau 1 th penjara, dengan denda 50.jt atau 1 bulan penjara tanpa remisi. Beliau, melakukan pemalsuan tanda tangan pencairan uang tahun 2003/2004 atas nama orang yang sebenarnya tidak dikenal dengan inisial S, tanda tangan tersebut seharusnya dilakukan oleh pimpinannya, karena pimpinannya tersebut sedang dalam keadaan sakit. Ketika kasus itu terbongkar, direktur utama dan saksi dari perusahaan tersebut sudah meninggal dunia. Beliau pertama kali ditangkap di Jakarta Selatan tahun 2007, di Mabes Polri selama 60 hari, kemudian pindah ke Pondok Bambu. Di pondok Bambu, para tahanan dapat membayar untuk mendapatkan kamar yang lebih baik. Tapi karena ia  tidak mempunyai biaya ia mendapatkan kamar dengan kapasitas 30 orang. Setelah itu, ia minta di pindahkan ke lapas wanita kelas IIA Bandung karena, keluarga besarnya berada di Bandung. Selama di lapas wanita ini beliau menjadi koordinator pengurus Gereja. Beliau tidak menyesal masuk penjara karena disana ia mendapat pelatihan untuk menjadi sosok pribadi yang lebih baik lagi. Dan akan lebih berhati-hati dalam melakukan suatu pekerjaan.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Atmasasmita, Romli, Sekitar Masalah Korupsi. Bandung:CV. Mandar Maju. 2004

Lubis, Mochtar dan Scott, C. James. Korupsi Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,      1993.

Alatas, S.H., Corruption its nature, causes, and function. Terj. Nirwono. Jakarta: LP3ES, 1987.

 

BIMBINGAN DAN KONSELING

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Kemajuan berpikir dan kesadaran manusia akan diri dan dunianya, telah mendorong terjadinya globalisasi. Situasi global membuat kehidupan semakin kompetitif dan membuka peluang bagi manusia untuk mencapai status dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Dampak positif dari kondisi global telah mendorong manusia untuk terus berfikir, meningkatkan kemampuan, dan tidak puas terhadap apa yang dicapainya pada saat ini. Adapun dampak negatif dari globalisasi tersebut adalah (1) keresahan hidup di kalangan masyarakat yang semakin meningkat karena banyaknya konflik, stress, kecemasan, dan frustasi; (2) adanya kecenderungan pelanggaran disiplin, kolusi, dan korupsi, makin sulit diterapkannya ukuran baik-jahat serta benar-salah secara lugas; (3) adanya ambisi kelompok yang dapat menimbulkan konflik, tidak saja konflik psikis, tetapi juga konflik fisik; dan (4) pelarian dari masalah melalui jalan pintas yang bersifat sementara juga adiktif, seperi penggunaan obat-obat terlarang.

Carl R. Rogers mengembangkan terapi client-cendered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutkannya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client-cendered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggarisbawahi tindakan mengalami klien berikutnya dunia subjektif dan fenomenalnya. Terapis berfungsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan client-centered manaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien unyuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapeutik antara terapis dan klien merupakan katalisator bagi perubahan; klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat unuk meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya.

 

  1. Perumusan Masalah
    1. Apa sejarah bimbingan dan konseling?
    2. Apa landasan filosofi, psikologi, pendidikan, dan sosial-budaya bimbingan dan konseling?
    3. Tujuan Pembahasan
      1. Untuk mengetahui sejarah bimbingan dan konseling.
      2. Untuk mengetahui landasan filosofi, psikologi, pendidikan, dan sosial-budaya bimbingan dan konseling.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Sejarah Bimbingan dan Konseling

Bila ditinjau dari segi sejarah perkembangannya ilmu bimbingan dan konseling di Indonesia, maka sebenarnya istilah bimbingan dan konseling pada awalnya dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan yang merupakan terjemahan dari istilah guidance and counseling. Penggunaan istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari kata guidance and counseling ini diceruskan oleh Tatang Mahmud, MA. Seorang pejabat Depatemen Tenaga Kerja Republik Indonesia pada tahun 1953. Sebagaimana yang dikemukakan oleh DR. Tohari Musnawar (1985:8).

Menurut riwayatnya, penggunaan istilah penyuluhan sebagai terjemahan counseling, sudah dimulai sejak tahun 1953. pencetusnya Tatang Mahmud., MA. Seorang pejabat di Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia. Pada tahun tersebut ia menyebarkan suatu edaran untuk meminta persetujuan kepada beberapa orang yang dipandang ahli, apakah istilah “guidance and conseling dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia Bimbingan dan Penyuluhan. Pada waktu itu ternyata tidak ada yang menolaknya.

Oleh karena itu Tatang Mahmud untuk mencarikan terjemahan istilah Guidance and Counseling ini dengan istilah Bimbingan dan Penyuluhan itu tidak ada yang membantahnya, maka sejak saat itu populerlah istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan istilah Guidance and Counseling.

Akan tetapi dalam perkembangan bahasa Indonesia selanjutnya pada tahun 1970 sebagai awal dari masa pembangunan Orde Baru, istilah penyuluhan yang merupakan terjemahan dari kata Counseling dan mempunyai konotasi psychological-counseling, banyak pula dipakai dalam bidang-bidang lain, seperti penyuluhan pertanian, penyuluhan KB, penyuluhan gizi, penyuluhan hukum, penyuluhan agama, dan lain sebagainya, yang cenderung diartikan sebagai pemberian penerangan atau informasi bahkan kadang-kadang hanya dalam bentuk pemberian ceramah atau pemutaran film saja. Menyadari perkembangan pemakaian istilah yang demikian, maka sebagian para ahli bimbingan dan penyuluhan Indonesia yang tergabung dalam oraganisasi profesi IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia) mulai meragukan ketepatan penggunaan istilah penyuluhan. Sebagai terjemahan dari istilah counseling tersebut. Oleh karena itu sebagian dari mereka berpendapat, sebaiknya istilah penyuluhan itu dikembalikan ke istilah aslinya yaitu counseling, sehingga pada saat itu dipopulerkan istilah bimbingan dan konseling untuk ilmu ini, tetapi ada pula sebagian ahli bimbingan dan penyuluhan yang berpendapat bahwa kalau istilah guidance diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan istilah bimbingan, istilah counseling harus pula dicarikan istilah bahasa Indonesianya. Berdasarkan pemikiran yang demikian maka ada para ahli itu ada yang menggunakan istilah bimbingan dan wawanwuruk, bimbingan dan wawanmuka, bimbingan dan wawancara untuk memberi nama bagi ilmu ini. Namun diantara sedemikian banyak istilah tersebut, saat ini yang paling populer adalah istilah Bimbingan dan Konseling.

Sejarah Lahirnya Bimbingan dan Konseling, Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 sampai 24 Agustus 1960.

Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun. Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan “pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.

Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan guru BP dari tamatan S1 Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan. Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menp an/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.

Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas, parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah. Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.

 

  1. Landasan Bimbingan dan Konseling

Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan, seperti landasan dalam pengembangan kurikulum, landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum.

Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Demikian pula, dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). Secara teoritik, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber, secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling, yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial-budaya, dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. Selanjutnya, di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut :

  1. Landasan Filosofis

Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut, tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Dari berbagai aliran filsafat yang ada, para penulis Barat .(Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, Thompson & Rudolph, dalam Prayitno, 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut :

  • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.
  • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya.
  • Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan.
  • Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya mengontrol keburukan.
  • Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam.
  • Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri.
  • Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri.
  • Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu dan akan menjadi apa manusia itu.
  • Manusia pada hakikatnya positif, yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun, manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu.

Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya.

2.  Landasan Psikologis

Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi; (b) pembawaan dan lingkungan, (c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (e) kepribadian.

a. Motif dan Motivasi

Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti : rasa lapar, bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–, menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan.

b. Pembawaan dan Lingkungan

Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius), normal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot). Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan menjadi tersia-siakan.

c. Perkembangan Individu

Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan, diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu; (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual; (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial; (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif; (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral; (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier; (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial; dan (8) Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan.

 

d. Belajar

Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor/keterampilan. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya.

Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan, diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme; (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi; dan (3) Teori Belajar Gestalt. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme.

 

e. Kepribadian

Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif.. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.

Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, Teori Analitik dari Carl Gustav Jung, Teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, Teori Medan dari Kurt Lewin, Teori Psikologi Individual dari Allport, Teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull, Watson, Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang mencakup :

  • Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
  • Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
  • Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
    Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih, atau putus asa.
  • Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
  • Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Selain itu, seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Begitu pula, konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien, konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien, konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. Oleh karena itu, agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis, setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik, yaitu bidang psikologi umum, psikologi perkembangan, psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian.

 

3. Landasan Sosial-Budaya

Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya, ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosial-budaya yang ada di sekitarnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”, maka tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.

Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya, yaitu : (a) perbedaan bahasa; (b) komunikasi non-verbal; (c) stereotipe; (d) kecenderungan menilai; dan (e) kecemasan. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda, dan bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock, yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa, dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi.

Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.

 

4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode, seperti: pengamatan, wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.
Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan, layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika, pemikiran, pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno, 2003).

Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling, seperti : psikologi, ilmu pendidikan, statistik, evaluasi, biologi, filsafat, sosiologi, antroplogi, ilmu ekonomi, manajemen, ilmu hukum dan agama. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi berbasis komputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Menurut Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pendidikan. Moh. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk “cyber counseling”. Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.

Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno, 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Sebagai ilmuwan, konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling, baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian.

Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia, Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis, landasan religius dan landasan yuridis-formal.

Landasan pedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi, yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan; (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling; dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling.

Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan; (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama; dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Ditegaskan pula oleh Moh. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi.

Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling, yang bersumber dari Undang-Undang Dasar, Undang – Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia.

 

BAB III

TINJAUAN TEORITIS

 

  1. Pengertian Bimbingan dan Konseling

–          Pengertian Bimbingan

Secara etimologis kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata “Guidance” berasal dari kata kerja “to guide” yang mempunyai arti “menunjukan, membimbing, menuntun, ataupun membantu”. Sesuai dengan istilahnya, maka secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan.

Definisi bimbingan yang pertama dikemukakan dalam Year’s Book of Education 1955, yang menyatakan:

Guidance is process of helping individual through their own effort to discover and develop their potentialities both for personal happiness and social usefulness.

Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usaha sendiri untuk menentukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

 

–          Pengertian Konseling

Istilah konseling berasal dari bahasa Inggris “to counsel” yang secara etimologis berarti “to give advice” (Homby: 1958:246) atau memberi saran dan nasihat.

Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru/konselor dengan klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahakn dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling ditujukan untuk membimbing dan mengarahkan individu melalui usahanya sendiri untuk menentukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kegahagiaan pribadi serta bertujuan agar individu dapat mengembangkan dirinya secara optima/sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

 

  1. Saran

Suatu kemampuan dapat berkembang secara optimal apabila mendapat bimbingan dan konseling yang terarah.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-bimbingan.html

http://belajarpsikologi.com/sejarah-lahirnya-bimbingan-dan-konseling/

http://www.hardja-sapoetra.co.cc/2010/03/konsep-bimbingan-konseling-bimbingan.html

 

 

KONSEP DASAR PENGETAHUAN

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai macam cara , dasar-dasar pengetahuan sendiri dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mengembangkan kerangka fikir manusia itu sendiri sehingga bernilai dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu  mengapa kita sebagai masyarakat khususnya para pelajar untuk mengetahui dan memahami bagaimana dasar-dasar pengetahuan seperti halnya penalaran, logika dan lain sebagainya itu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memngembangkan pengetahuan.

 

  1. Tujuan

Untuk mengetahui konsep-konsep dari dasar-dasar pengetahuan.

 

  1. Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini menggunakan kajian pustaka yaitu dengan mengambil beberapa sumber dari buku-buku yang membahas dasar-dasar pengetahuan.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. PENALARAN

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). Seekor kera tahu mana buah jambu yang enak. Seekor anak tikus tahu mana kucing yang ganas. Anak tikus ini tentu saja diajari induknya untuk sampai pada pengetahuan bahwa kucing itu berbahaya. Tetapi juga dalam hal ini, berbeda dengan tujuan pendidikan manusia, anak tikus hanya diajari hal-hal yang menyangkut kelangsungan hidupnya.

Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia mengembangkan kebudayaan, manusia member makna kepada kehidupan, manusia “ memanusiakan” diri dalam hidupnya. Semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.

Pengetahuan dapat dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbrlakangi informasi tersebut. Sebab kedua, adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran.

Binatang mampu berpikir namun tidak mampu berpikir nalar. Instink binatang jauh lebih peka dari instink seorang insinyur geologi ; mereka sudah jauh-jauh berlindung ke tempat yang aman sebelum gunung meletus. Namun binatang tidak bias menalar tentang gejala tersebut : mengapa gunung meletus, factor apa yang menyebabkannya, apa yang dapat dilakukan untuk mencegah semua itu terjadi.

Tentu saja tidak semua pengetahuan berasal dari proses penalaran. Manusia bukan semata-mata makhluk yang berpikir : sekedar Homo sapiens yang steril. Manusia adalah makhluk yang berpikir, merasa, mengindera, dan totalitas pengetahuannya berasal dari ketiga sumber tersebut, disamping wahyu yang merupakan komunikasi Sang Pencipta dengan makhluk-Nya.

 

  1. HAKIKAT PENALARAN

Penalaran adalah suatu proses berfikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan bukan dengan perasaan. Jadi, penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.

Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu :

  1. Adanya suatu pola berfikir yang secara luas dapat disebut logika.

Dalam hal ini maka dapat kita katakana bahwa tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya tersendiri. Atau dapat pula disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses berpikir logis, dimana berpikir logis disini harus diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu, atau dengan perkataan lain, menurut logika tertentu.

  1. Sifat analitik dari proses berfikirnya.

Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikiryang dipergunaka untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan.

 

  1. LOGIKA

Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secra shahih.

Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, yakni logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata (bersifat khusus) menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif  adalah penarikan kesimpulan dari kasus-kasus yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (bersifat khusus).

Kesimpulan yang bersifat umum penting artinya sebab mempunyai dua keuntungan, yaitu :

  1. Pernyataan yang bersifat umum bersifat ekonomis.
  2. Dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun secara deduktif.

Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor.

Contoh silogisme :

Semua masasiswa pendidiksn IPS sedang mengikuti praktikum ke Jakarta

Evita seorang mahasiswi pendidikan IPS

Jadi Evita sedang mengikuti prakikum ke Jakarta.

                        Kesimpulan yang diambil bahwa “ Evita sedang mengikuti praktikum ke Jakarta “ adalah sah menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Dengan demikian maka ketepatan penarikan kesimpulan tergantung dari tiga hal yakni :kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor, dan keabsahan pengambilan kesimpulan.

                                                      

  1. SUMBER PENGETAHUAN

Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan empirisme.

Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Dalam menyususn pengetahuannya premis yang dipakai dalam penalaran didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Dalam hal ini maka pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipsistik (hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berada dalam benak orang yang berfikir tersebut) dan subyektif.

Berlainan dengan kaum rasionalis maka kaum empiris berpendapat bahwa pengetahun manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang kongkret. Gejala-gejala alamiah menurut kaum empiris adalah bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indra manusia.

Disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain yaitu intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut tanpa melalui proses berfikir yang berliku-liku, dia merasa yakin bahwa memang itu lah jawaban yang dia cari namun dia tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya dia sampai menemukan jawaban dari permasalahannya itu.

Intuisi bersifat personal dan tidak dapat diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak bisa diramalkan. Pengetahuan intusi dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya

Wahyu merupakengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia . pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutus-NYA sepanjang zaman. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehudapan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transedental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhir nanti. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang gaib (supranatural).

Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan , kepercayaan kepada nabi sebagai perantara dan kepercayaan terhadap wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini.

Singkatnya agama dimulai dengan rasa percaya dan lewat pengkajian selanjutnya kepercayaan itu bisa meningkat atau menurun. Pengetahuan lain seperti ilmu umpamanya, bertitik tolak sebaliknya. Ilmu dimulai dengan rasa tidak percaya . dan setelah melalui proses pengkajian ilmiah, kita bisa diyakinkan atau tetap pada pendirian semula.

 

  1. KRITERIA KEBENARAN

Kriteria kebenaran merupakan landasan bagi proses penemuan kebenaran. Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran dimana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing.

Teori kebenaran dibagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Teori koherensi

Suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsistensi dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

  1. Teori korespondensi

Suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

  1. Teori pragmatis

Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

 

Istilah kebenaran memiliki empat arti yang berbeda, dalam hal ini dapat disimbolkan dengan T1, T2, T3, T4.

  1. Kebenaran T1. Kebenaran Metafisik. Merupakan kebenaran yang paling mendasar dan puncak dari seluruh kebenaran yang pernah ada (ultimate truth). Harus diterima apa adanya (taken for granted). Kebenaran ini adlah kebenaran yang berasal dari Tuhan Sang Pencipta.
  2. Kebenaran T2. Kebenaran Etik. Kebenaran yang merujuk pada perangkat standar moral atau professional sebagai pegangan perilaku yang harus dilakukan oleh pemegang jabatan (code of conduct). Seseorang dikatakan benar bila dia berpegang dan melakukan tindakan sesuai dengan standar perilaku yang harus dilaksanakannya. T2 bersumber dari T1 atau norma social budaya, komunitas profesi. (ada yang mutlak ada yang relatif).
  3. Kebenaran T3. Kebenaran Logik. Kebenaran hasil consensus, dianggap benar apabila secara matematis konsisten atau koheren dengan yang telah diakui dalam T1 & T2.
  4. Kebenaran T4. Kebenaran Empirik. Kebenaran yang teruji dan tahan dari kritik atau falsifikasi. Kebenaran ilmiah yang konsisten dengan kenyataan alam, keilmuan dijastifikasi dan diverifikasi. Korespnden antara teori, fakta, dan kenyataan. (Lincoln & Guba ; 1985)

BAB III

KESIMPULAN

 

Penalaran terdiri dari hakikat penalaran yang merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran atau suatu berfikir logis.

Logika merupakan kajan untuk berfikir secara shahih, jenis-jenis penalaran kesimpulan ialah logika induktif dan logika deduktif dari logika deduktif ada silogosme yaitu disusun dari dua pernyataan dan satu kesimpulan (premis mayor,premisminor) dan kesimpulan

Sumber pengetahuan terdiri dari kaum rasionalisme menggunakan metode deduktif yang bersifat solipsistik dan subyektif. Kaum empiris yang bersifat kontradiktif. Intuisi yang bersifat pesonal dan tidak bisa diramaikan, wahyuyaitu pengetahuan yang di sampaikan oleh tuhan kepada manusia,

Kriteria kebenaran terdiri dari dua teori yakni teori koherensi, teori korespondensi dan teori pragmatis.

DAFTAR PUSTAKA

 

Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007

Tim dosen administrasi pendidikan UPI, Manejemen Pendidikan. Bandung : Alfabeta,    2010..